Ebiz Ads

Kamis, 18 Maret 2010

Ikan Sidat Indonesia Diincar Jepang


Benar jika dikatakan bahwa kekayaan kelautan dan perikanan Indonesia termasuk yang terbesar di dunia. Buktinya terlihat dari salah satu spesies ikan kegemaran warga Jepang, yaitu ikan sidat atau unagi, yang banyak hidup di perairan Indonesia.

Benih ikan sidat yang bisa hidup di air tawar dan asin itu ternyata menjadi incaran pengusaha perikanan Jepang karena harganya yang terbilang wah dan bisa mengucurkan yen ke kantong. Ambil contoh, ikan sidat jenis marmorata. Untuk membeli satu kilogramnya saja, Anda harus menyediakan uang setidaknya Rp 300.000.

Namun, ada juga 5 jenis ikan sidat lainnya yang salah satunya dijual seharga Rp 150.000 per kg, yakni jenis bicolor. Benihnya banyak ditemukan di perairan Palabuhan Ratu, Jawa Barat. Sampai saat ini, manusia belum bisa melakukan pemijahan terhadap benih ikan sidat tersebut. Pasalnya, ikan ini mensyaratkan pemijahan dilakukan di perairan laut dalam setelah benur lahir dan menjadi benih. Biasanya anakan sidat akan berenang ke muara sungai.

Di muara sungai itulah ikan itu besar sampai kemudian datang masa pemijahan lagi. "Jepang yang memiliki teknologi tinggi pun sampai sekarang belum bisa melakukan pemijahan tersebut," papar Made Suita, Kepala Balai Pelayanan Usaha (BLU) Tambak Pandu, Karawang, Minggu (14/3/2010).

Alhasil, untuk pembudidayaan ikan sidat tersebut, benih harus didatangkan dari alam. Beberapa daerah yang sudah memiliki sebaran tersebut adalah perairan Poso, Manado, selatan Jawa terutama perairan Palabuhan Ratu, dan perairan di barat Sumatera.

Namun, tidak semua daerah itu benihnya bisa dimanfaatkan karena banyak nelayan yang belum mengerti cara untuk menangkapnya. Made menyebutkan, nelayan yang sudah memiliki kemampuan untuk menangkap benih sidat itu baru nelayan yang ada di Palabuhan Ratu. Wilayah ini memiliki palung dan muara sungai yang mengalir ke laut.

Nurdin selaku Kepala Bagian Budidaya di BLU Pandu Karawang bilang, kini sudah ada yang mengomersialkan keberadaan benih itu, terutama nelayan yang ada di Palabuhan Ratu. Mereka sudah mengetahui potensi pasar benih ikan sidat, yang satu kilogramnya atau sekitar 5.000 benih dijual seharga Rp 150.000 per kg. Pembelinya pun kebanyakan datang dari Taiwan, Korea, China, Vietnam, dan tentunya Jepang.

Namun sebagian masyarakat Indonesia belum mengerti keberadaan bibit ikan sidat tersebut. Di Poso dan Manadi, misalnya, benih ikan sidat tersebut bahkan dijadikan ikan yang digoreng dengan rempeyek. Menurut Nurdin, ketika warga tidak mengetahuinya, ikan sidat itu menjadi ikan biasa seperti teri.

Pembeli benih ikan sidat dari berbagai negara kini sudah banyak mengincarnya. Sementara itu, pembeli benih domestik hanya memanfaatkannya untuk kebutuhan budidaya yang ada di Karawang, Cirebon, dan Indramayu. Yang menyulitkan bagi pembudidaya di dalam negeri adalah mereka tidak memiliki akses langsung ke pasar ekspor. Adapun di pasar dalam negeri, mereka tidak bisa berharap banyak karena konsumen domestik tidak menyukai ikan sidat dan juga karena harganya yang mahal.

"Untuk membudidayakannya juga ada persyaratan jika ingin ekspor ke Jepang sehingga pembudidaya ikan sidat sulit untuk ekspor ke sana," kata Nurdin.

Salah satu cara untuk bisa menembus pasar Jepang adalah dengan menjalin kerja sama terhadap perusahaan Jepang yang sebelumnya sudah berbisnis ikan sidat.

Nurdin bilang, ikan sidat cukup mahal karena proses perawatannya yang membutuhkan waktu lebih panjang, yakni 3-4 bulan. Adapun pakan utamanya adalah pelet dengan protein tinggi yang dijual seharga Rp 9.000 per kg. Selain itu, ikan juga butuh pakan tambahan berupa keong mas yang sudah dipotong-potong.

Dalam perawatannya pun, suplai oksigen harus dijaga karena ikan sidat membutuhkan air dengan tingkat larutan oksigen tinggi. Adapun tingkat kehidupan rata-rata ikan sidat tersebut mencapai 75 persen dari bibit yang ditebar. "Jika ingin detailnya, maka silakan datang ke BLU Tambak Pandu Karawang. Kami akan berikan informasi detailnya," undang Nurdin.

Saat ini di BLU Pandu Karawang terdapat mitra kerja sama dari Jepang, yakni Asama Industry Co Ltd. Mitra ini bekerja sama dengan PT Suri Tani Pemuka yang melakukan kerja sama untuk memproduksi ikan sidat di BLU Pandu Karawang. Ikan sidat yang sudah diproduksi tersebut bisa diekspor langsung ke Jepang karena sudah ada yang menampung. Sayang, Made tidak mau menyebutkan angka ekspor dari perusahaan mitranya tersebut.

Saat ini yang dibutuhkan oleh pembudidaya ikan sidat adalah membuka kerja sama dengan pemasok ikan sidat yang ada di pasar dunia. Menurut Made, pasar yang sangat menarik dan belum banyak disentuh adalah pasar ikan sidat untuk kebutuhan non-Jepang. "Yang mengonsumsi itu tidak hanya Jepang. Taiwan, Korea, dan China juga sangat menyukai ikan ini," ungkap Made.

Butuh proteksi ekspor benih

Masalah yang dihadapi oleh pembudidaya ikan sidat ini adalah masalah daya saing yang ketat dengan negara produsen lainnya. Negara yang sudah mengembangkan budidaya ikan sidat ini adalah Vietnam dan Korea, demikian juga dengan Jepang sendiri. Anehnya, kata Made, budidaya di dua negara tersebut mendapatkan benih ikan sidat dari Indonesia.

Padahal, kata Made, Kementerian Kelautan dan Perikanan sudah memproteksi ekspor benih ikan sidat dengan alasan guna melindungi spesies dan untuk meningkatkan nilai tambah di dalam negeri. "Namun, pembudidaya ikan sidat di Jepang itu sendiri ternyata adalah orang Indonesia," ungkap Made.

Termasuk yang ada di Korea dan juga Vietnam, benih ikan sidat itu diindikasi berasal dari Indonesia. Made mengindikasi bahwa banyak benih ikan sidat dari Indonesia berseliweran keluar negeri dan dibudidayakan di luar negeri. "Kontainer saja yang besar bisa diselundupkan, apalagi benih yang kecil ini," ujar Made.

Jika penyelundupan benih itu bisa diatasi, maka produksi ikan sidat dari budidaya di dalam negeri bisa sangat diandalkan sebagai nilai tambah bagi pembudidaya di dalam negeri, termasuk menambah devisa negara

Selasa, 16 Maret 2010

Melipat Rupiah dari Modifikasi Sepeda


Tak mau kalah dengan kendaraan bermesin macam mobil dan sepeda motor, sepeda kayuh pun tak luput dari tren modifikasi. Sepeda hasil modifikasi alias sepeda custom jenis low rider adalah sepeda yang sangat digemari. Maka dari itu, kini bermunculan bengkel kreasi sepeda bersadel rendah tersebut.

Meskipun ada pabrikan besar yang memproduksi aneka bentuk sepeda, bisnis modifikasi tak pernah mati. Maklum, karena diproduksi massal, sepeda pabrikan kerap tidak memenuhi selera penggunanya. Kondisi ini, tak ayal, membuat bisnis modifikasi sepeda memiliki prospek cerah. Salah satunya adalah modifikasi sepeda low rider.

Sejatinya, low rider adalah sepeda yang perawakannya pendek atau ceper. Salah seorang modifikator low rider, Tubagus Krisna Murthi, mengatakan, sepeda low rider sebenarnya meniru bentuk mobil-mobil mewah yang beredar di Amerika Serikat (AS) pada tahun 1950-an, yang ketika itu tengah ngetren.

Krisna berkisah, pada dekade tersebut, anak muda heboh mengendarai mobil yang diceperkan. Sayangnya, tidak semua anak muda bisa bergaya dengan mobil itu karena harganya yang mahal. "Dari situ muncullah kreasi modifikasi sepeda ceper yang disebut low rider bikinan George Barris di AS," beber Krisna yang juga pemilik Bakul Pit Low Rider.

Tak disangka, kreasi Barris kelak menjadi mahakarya dan bertahan hingga sekarang. Bahkan, karya itu berbalik arah menjadi sepeda untuk bergaya. Beberapa pabrikan sepeda besar malah tercatat pernah memproduksi massal model sepeda ini, seperti Schwinn asal Amerika. Krisna baru membuka Bakul Pit sejak pertengahan 2007. Namun, dia sudah sangat menggilai modifikasi sepeda sejak masih duduk di bangku sekolah menengah. Cara belajarnya otodidak.

Menurut Krisna, ciri-ciri sepeda low rider antara lain memiliki diameter ban ideal 20 inci, setang kemudi tinggi, frame rainbow (berangka pelangi) dan springer (garpu depan) melengkung. Untuk tempat duduk, sadel low rider biasa disebut jok banana (pisang). Sebab, bentuknya memang panjang seperti pisang dengan besi menjulang di bagian belakang yang terkadang digunakan untuk menyandarkan badan.

Meski ada beberapa ciri utama dari low rider, kata Krisna, selera personal tetap menjadi parameter modifikasi sepeda low rider. "Saya selalu membuat sepeda sesuai keinginan pemesan," katanya.

Dia berkata, saat memesan, biasanya klien datang membawa gambar atau foto. Setelah gambarnya cocok, Krisna selanjutnya membuat estimasi dana yang harus dibayar klien. "Saya kasih saran sesuai budget-nya. Kalau setuju, saya segera kerjakan," kata pria 23 tahun ini.

Untuk penggarapan, paling cepat Krisna bisa mengerjakan low rider dalam waktu enam jam. Dengan catatan, klien tidak memesan model yang neko-neko dan suku cadang berasal dari bengkelnya di Bekasi Selatan.

Menurut Krisna, jika permintaan klien banyak, misalnya membikin velg dan setang serta mengecat body, maka waktu penggarapannya bisa sampai dua minggu. Cepat atau lamanya waktu penggarapan ini juga bergantung pada ketersediaan suku cadang atau suku cadang.

Untuk suku cadang, ada dua jenis, yakni klasik dan baru. Untuk mendapatkan suku cadang klasik, Krisna biasanya minta bantuan teman-temannya dari luar kota untuk mencarinya. seperti di Yogyakarta, Semarang, Solo, dan Medan. Untuk suku cadang baru, Krisna mendapatkannya dari seorang agen yang merupakan pengimpor suku cadang asal Taiwan.

Tarif modifikasi low rider yang ditawarkan bengkel Krisna minimal Rp 1,5 juta-Rp 2 juta. Ini untuk pembuatan low rider lengkap dari nol. Krisna mengaku tidak pernah melayani modifikasi dengan cara mengubah sepeda yang sudah ada menjadi low rider.

Selain low rider, Krisna juga memodifikasi model sepeda lain, seperti limo, cruiser, chopper, basman, dan fire bike. Ini adalah model-model sepeda untuk life style, seperti halnya low rider.

Seperti namanya, limo adalah sepeda genjot yang terinspirasi dari sedan limosin. Panjang sepeda ini bisa mencapai 2 meter. Sementara itu, chopper adalah sepeda yang terinspirasi dari motor gede (moge) Harley Davidson. Lalu, cruiser adalah sepeda yang bentuknya mirip sepeda pantai.

Dari sekian jenis ini, Krisna bilang yang paling enak dikendarai hanya chopper. "Sepeda-sepeda ini memang hanya untuk life style bukan dikejar dari sisi fungsionalnya," katanya.

Dari bisnis modifikasi sepeda low rider saja berikut penjualan suku cadangnya, bengkel Krisna bisa meraup omzet Rp 7 juta per bulan.

Modifikator sepeda low rider lainnya adalah Hendra Prasetya. Bersama ketiga rekannya asal Bandung, Jawa Barat, Hendra juga memilih hanya menerima pembuatan sepeda utuh dan tidak menerima perombakan sepeda. "Karena sepeda yang sudah jadi memiliki tema berbeda sehingga banyak yang harus dirombak. Tipe bahan besinya juga beda," kata pria yang akrab disapa Pras ini.

Pras menggagas pendirian bengkel sepeda custom sejak 2009. "Semuanya berawal dari hobi dan mendesain sepeda milik sendiri. Karena ada yang tertarik dan minta dibuatkan, ya, akhirnya saya membuka bengkel," ujarnya.

Meski belum memberi nama bengkelnya, hasil kerja Pras dan teman-temannya cukup dikenal. Selain pemasaran dari mulut ke mulut, dia juga mempromosikan hal itu lewat internet. Pemesan yang datang ke bengkelnya kebanyakan dari kalangan muda, seperti komunitas sepeda atau skate board.

Dalam rnemodifikasi low rider, kata Pras, proses tersulit adalah mendesain dan mencari bahan baku. Untuk soal terakhir, bahkan Pras harus pandai memilih bahan baku yang harganya sesuai dengan isi kantong pelanggannya. "Tidak semua pemesan memasang budget khusus. Ada juga yang mengikuti desain dan harga yang ditawarkan," katanya.

Setelah pemilihan bahan baku, Pras memesan pembuatan rangka sepeda dan aksesori tertentu ke bengkel las. Dia memakai tenaga bengkel las karena biayanya lebih murah daripada membuat sendiri. "Tapi harus detail menginstruksikan ke tukang las supaya desain dan ukurannya sesuai, dan mudah dirakit," ujar pria lulusan Teknik Informatika Universitas Maranatha Bandung ini.

Sampai saat ini, Pras sudah mengerjakan lima sepeda low rider dan dua sepeda chooper. Tarifnya antara Rp 1,5 juta dan Rp 3 juta per unit. Menurutnya, keuntungan sepeda customized, selain mendapat sepeda yang modelnya eksklusif, harganya juga lebih murah dari sepeda yang sudah jadi.

Modifikator sepeda custom lainnya adalah Yudi Kartono, yang memiliki Bengkel Sepeda Ben Hur. Yudi menekuni bisnis modifikasi sejak 2004 di bilangan Radio Dalam, Jakarta Selatan. Ia bahkan dikenal sebagai salah satu pelopor modifikasi low rider di Jakarta.

Harga pembuatan sepeda paling murah adalah Rp 1,5 juta untuk low rider standar. Namun, menurut Yudi, harga rata-rata modifikasi sepeda yang ia kerjakan adalah antara Rp 3 juta dan Rp 4 juta. Untuk suku cadang, ia menetapkan harga, termasuk ongkos pemasangan.

Dalam sebulan, Yudi rata-rata menerima pesanan pembuatan dua sepeda. Namun, di sela-sela itu, ada juga permintaan untuk suku cadang. Rata-rata dalam sebulan permintaan suku cadang antara 5 dan 10 unit

Senin, 15 Maret 2010

Ebiznews


Boneka dan Mainan Kayu Tahan Hadapi Gempuran China

Sejumlah jenis mainan buatan dalam negeri tetap tahan banting terhadap gempuran mainan China yang menyerbu di pasar Indonesia menyusul diimplementasikannya perdagangan bebas ASEAN-China atau ACFTA pada awal tahun ini. Di pasar Prumpung, Jakarta, misalnya, mainan seperti boneka yang dijual justru hampir seluruhnya merupakan produk lokal, seperti dari daerah Tangerang, Bekasi, Bogor, dan Kota.

"Kualitas boneka produk lokal masih lebih bagus dibandingkan milik China. Harganya pun masih terjangkau," kata salah satu penjual boneka, Muchdar, saat ditemui di Pasar Prumpung, Jakarta.

Bandingkan dengan mainan elektronik seperti mobil remote control yang dikuasai oleh China. Harga mainan elektronik asal Negeri Tirai Bambu itu juga terbilang lebih murah dibandingkan produk lokal.

Ketua Asosiasi Pegiat Mainan Edukatif dan Tradisional Indonesia (APMETI) Dhanang Sasangko mengakui, untuk produk mainan yang membutuhkan teknologi, perajin mainan lokal sulit untuk bersaing dengan produk China. "Itu karena mereka (China) menggunakan mesin-mesin produksi terkini untuk memproduksi mainan-mainan yang berbahan baku plastik dan kain. Kita kalah," ujar Dhanang.

Menurut dia, Indonesia masih bisa bersaing dengan China untuk mainan-mainan yang menggunakan bahan baku kayu dan sejenisnya, seperti balok-balok ataupun puzzle. Pasalnya, bahan baku kayu sulit diperoleh di China.

Agar mampu bersaing dengan produk China, dia menegaskan bahwa pemerintah harus mendorong terciptanya iklim produksi yang mampu memberikan kemudahan dan biaya produksi yang murah. "Caranya melakukan sistem inkubator dan plasma-plasma," tambahnya.

Minggu, 14 Maret 2010

Modal Rp 2.000, Bisa Topang Masa Tua


Usia boleh senja, tetapi semangat untuk berkarya tetap tinggi. Itulah yang dipraktikkan Iwa, pemilik Indo Cipta Galeri Craft Art di Bogor, Jawa Barat.

Perempuan berusia 61 tahun ini setiap hari menopang usahanya dengan bekerja sebagai perajin aksesori dan sulaman kepompong. Dengan penglihatan yang mulai surut, setiap hari dia bisa menghasilkan lebih dari 10 kerajinan. Bahkan, dalam waktu tiga bulan, dia bisa menghasilkan sekitar 300 kerajinan dari tangannya sendiri.

Alhasil, dari hasil kerjanya itu, nenek satu cucu ini tak perlu menggantungkan hari tuanya di tangan suami ataupun anak-anaknya.

”Umur sekian enggak masalah. Ngapain pensiun, ngapain kita berhenti. Kita senang kok hobi kita tersalur, biarpun sudah nenek-nenek. Nanti saja kalau sudah diambil Tuhan baru pensiun,” kata Iwa

Sudah sembilan tahun Iwa membuat kerajinan kepompong. Sebelum memproduksi kerajinan aksesori dan sulaman kepompong, nenek satu cucu ini membuat kerajinan bunga kering. Pekerjaan ini dijalaninya sejak 32 tahun silam.

Saat itu, Iwa baru saja diperistri oleh suaminya, Irwin Hasibuan (62). Kehidupan pengantin baru ternyata membuatnya memiliki banyak waktu luang. Dia pun mencari kegiatan dan mulai menggeluti hobinya saat masih gadis dulu, yakni membuat kerajinan.

Dengan bermodalkan Rp 2.000, dia menjajal kerajinan bunga kering. Tak disangka, hasil kerajinannya ini laku dijual dan pesanan pun mulai membanjir.

Puluhan tahun menyetir usahanya, Iwa pernah berulang kali mengalami jatuh bangun. Usahanya mengalami masa kejayaan pada 1992. Saat itu, banyak pesanan mengalir dari Amerika Serikat, Brunei, dan negara tetangga, seperti Malaysia dan Singapura.

Dari dalam negeri, pelanggannya banyak berasal dari kalangan birokrat. Namun, krisis moneter 1997 menghantam usahanya. ”Saat krisis moneter itu pelan-pelan usaha saya terus menurun. Itulah yang disebut sampai titik nadir kami. Terus terang saya bingung mau bagaimana. Pokoknya sempat menangis berdarah-darah,” ujarnya pelan.

Tak kehilangan semangat, ibu tiga anak ini terus memproduksi bunga kering. Zaman pemerintahan Gus Dur, dia mendapat pesanan 20 rangkaian bunga kering dari kalangan pegawai pemerintahan. Pesanan ini cukup membangkitkan usahanya kembali.

Memasuki abad ke-21, dia merasa bahwa pasar telah mulai jenuh dengan produknya. Iwa mencoba kreasi baru dengan mengadopsi kepompong untuk diimbuhkan dalam kerajinannya.
Tak hanya kepompong sutra, segala macam rumah ulat ini dicobanya. Biasanya, dia memilih untuk mempertahankan warna asli kepompong dalam setiap produknya. Hasilnya, kepompong warna kuning emas atau putih ini disulap menjadi aksesori baju ataupun jepitan rambut. Versi lain, Iwa menyulamkan kepompong sebagai hiasan di baju ataupun selendang.

”Ibu cari biar tampil beda dan eksklusif. Pokoknya harus kreatif dan bahannya yang unik. Dari situ saya lihat kepompong dan berpikir kalau itu bisa disulam dan diapa-apain menjadi aksesori. Eh, malah bikinan nenek-nenek disukai anak-anak,” ucapnya.

Untuk memuluskan usahanya, Iwa terbilang rajin mengikuti pameran. Langkahnya beralasan karena pameran menjadi ajang untuk mempromosikan produknya. Dalam satu kali pameran, dia bisa meraup omzet Rp 2 juta hingga Rp 3 juta dari aksesori yang dijualnya seharga rata-rata Rp 10.000 per buah.

”Pokoknya ikut pameran terus. Apalagi kalau diundang, kayak kemarin dari Kementerian Perdagangan, Kementerian Perindustrian, terus perusahaan-perusahaan itu juga pernah ngundang,” ujar Iwa.

Tak hanya di Indonesia saja, perempuan kelahiran Medan ini juga pernah memboyong produknya ke Singapura untuk mengikuti pameran selama tiga minggu. Di negara tetangga itu, produknya juga laris manis.

Uniknya, Iwa mengaku hanya dapat membuat paling banyak dua kerajinan dengan desain yang sama persis. Selebihnya, bentuk desainnya pasti sudah berbeda. Lantas, bagaimana apabila ada banyak pesanan dengan desain yang sama?

”Ya, kasih saja ke pegawai. Kan banyak yang bisa mengerjakan. Benar lho, ini enggak tahu kenapa cuma bisa buat satu atau dua saja dengan desain yang sama. Kalau disuruh bikin yang sama lagi, sudah enggak bisa itu,” jawabnya.

Kini, selain membuat kerajinan, dia juga disibukkan dengan kegiatan mengajar para mahasiswa yang ingin belajar membuat kerajinan. Jumlah muridnya ini mencapai belasan. Ke depan, dia berangan-angan membuat buku katalog berisi koleksi desain aksesorinya. Semoga berhasil!

Iwa
Indo Citra Galeri Craft Art
Jalan Prapatan Dukuh Rt 01/Rw 01, Pasar Mukti, Citeureup, Kabupaten Bogor Jabar
Hp: 08568944146

Jumat, 12 Maret 2010

Pengguna Internet Tidak Manfaatkan Peluang Bisnisnya


Pengguna Internet di Indonesia saat ini sekitar 25 juta dan disayangkan baru sebatas pengguna (user).mereka belum banyak memanfaatkan peluang bisnis di bidang telematika itu.

"Negara maju seperti Jepang, industri telematika sudah sangat pesat. Bahkan, keuntungan dari game one line saja mencapai Rp 10 triliun per tahun," ungkap Direktur Industri Alat Transportasi Kementerian Perindustrian Ramon Bangun, sebagaimana dikutip dalam siaran pers yang dikeluarkan Humas Pemko Bogor, Kamis (11/3/2010) sore.

Ramon Bangun menyatakan hal itu saat membuka pelatihan di bidang Teknologi Informasi untuk UKM dan Interoperabilitas, bagi jajaran Pemerintah Kota Bogor di Balaikota Bogor.

"Dengan pengguna mencapai 25 juta, Indonesia berada di peringkat ke-5 pengguna internet di Asia. Ini peluang besar bagi para pengusaha telematika di Indonesia untuk mengembangkan usahanya baik ditingkat lokal maupun Internasional," katanya.
Sekretaris daerah Kota Bogor H.Bambang Gunawan mengatakan, sejauh ini sudah banyak usaha-usaha kecil sukses berkembang, karena kegiatan marketing dilakukan dengan memanfaatkan teknologi informasi.

Dengan memanfaatkan internet, mereka mempromosikan produk yang dibuat atau produk yang dijual, sekaligus mereka bertransaksi untuk pembelian bahan baku produk maupun bertransaksi penjualan produknya. Pengusaha akan sulit mengelola dan mengembangkan bisnisnya kalau tidak pernah mau mempergunakan teknologi informasi.

Dia berharap, melalui pelatihan ini akan mampu meningkatkan kemampuan para pengusaha UKM di Kota Bogor dalam menghadapi perdagangan bebas Asean China saat ini.
Adapun Kepala Bidang Komunikasi dan Informatika (Kominfo), Dinas Perhubungan dan Kominfo, Hermansyah mengatakan, pelatihan itu memang bertujuan untuk meningkatkan keterampilan para pelaku UKM dan aparat Pemerintah Kota Bogor, termasuk lurah, dalam bidang teknologi informasi.

Tahap pertama pelatihan untuk pelaku UKM sebanyak 20 peserta selama 3 hari (11-13/3/2010). Tahap kedua pelatihan Interoperabilitas untuk aparatur Pemerintah Daerah Kota Bogor sebanyak 60 orang (11-20/3/2010). Materi pelatihan di antaranya pembuatan website toko online, internet marketing, dan banner animasi.

Kamis, 11 Maret 2010

Komunitas Djadoel, dari Hobi ke Bisnis


Dalam suatu mimpi, Yanuar Christianto (39) datang ke sebuah toko mainan. Secara fisik, bangunanya sama sekali tidak menarik. Berdebu dan kotor. Hal serupa juga tampak dari mainan yang dijual, layaknya dagangan yang tak kunjung laku.

Ketika mentari telah bersinar, tanpa menghiraukan mimpinya, ia berkeliling Jakarta dengan sepeda motornya. Arah mana yang ia tuju hasil dari bisikan hatinya. Berjalan dan terus berjalan, melewati Jalan Gajah Mada lalu ke Jalan Hayam Wuruk, dan terus menuju ke Utara. Sampai di suatu tempat, yang ia sendiri tidak tahu di mana, Yanuar kaget tak terkira. Saat ia memberhentikan motornya untuk istirahat, dan menoleh ke kiri, tampak olehnya toko mainan yang ada dalam mimpinya.

Masih dengan rasa tidak percaya, Yanuar mengayunkan langkah menuju toko tersebut. Belum sempat ia bersuara, matanya telah menangkap kardus lusuh berisi mainan-mainan. “Saya borong semuanya. Ini terjadi pada akhir tahun kemarin,” kata Yanuar, Sang kolektor mainan.

Yanuar adalah salah satu anggota Komunitas Djadoel, komunitas pencinta barang antik, yang berdiri pada Mei 2009. Ia mengaku laki-laki yang kesehariannya bekerja sebagai waitress di Kapal Pesiar berbendera Italia ini dari umur 5 tahun gemar mengumpulkan barang. Didukung pekerjaannya, koleksinya berasal dari banyak negara seperti Italia, Malta, Spanyol, Perancis, Inggris dan Jerman. “Kalau di jalan saya menemukan skrup atau baut, saya bawa pulang dan ditaruh dalam kotak korek api. Sampai banyak,” papar Yanuar.

Anggota komunitas lainnya, Muchlis Amir (57) juga mengumpulkan barang antik bermula dari hobi. Dari sekian banyak barang, ia memilih kalender untuk dikoleksi. Dalam perjalana waktu, kalender koleksinya yang mulai tahun 1940-1980 banyak dicari orang. "Mereka ingin tahu hari lahirnya kapan. Juga apakah bertepatan dengan hari besar (agama maupun nasional). Di kalender juga ada hari pasaranya,” ujar pensiunan pekerja swasta ini.

Lebih lanjut, anggota komunitas ini tidak sekadar mengumpulkan barang. Tetapi juga menjualnya, karena pasar untuk barang-barang antik cukup menjanjikan. Menurut Daniel Supriyono, Ketua Komunitas Djadoel, meski barang jadul, namun pemeblinya tidak hanya orang-orang berumur, tepai anak baru gede dan juga anak-anak kecil pun menjadi pasar. “Anak kecil suka pada mainan. ABG yang ingin bergaya jadul beli kaca mata berlensa gede. Sedangkan Kakek nenek (selain) nostalgia juga diberikan untuk cucunya untuk memperkenalkan barang pada zamannya” tutur Daniel yang juga wartawan Nova, kelompok Gramedia Majalah.

Baik Yanuar, Muchlis maupun Daniel sama-sama memahani jika sebagaian orang keberatan kalau barang antik mahal. Padahal hanya barang “bekas.” Menurut Daniel, mencari untung wajib hukumnya saat menjual barang koleksinya. Tapi perhitungan untung tersebut bukan sekadar nilai ekonomi tetapi perjuangan mendapatkannya dan nilai kesejarahannya. “Untung harus berlebih karena barangnya tidak selalu didapat. Mahal itu sebagai penghibur saat kami menyerahkan barang yang sulit didapat dan kami miliki,” tuturnya.

Orang-orang yang tergabung dalam komunitas Djadoel ini sebenarnya bisa dikatakan sudah mapan. Ada yang bekerja di perusahaan media, bengkel mobil, designer grafis dan ada juga di departemen keuangan. Selain itu tidak semua barang koleksi mereka dijual. "Laku syukur, gak ya gak apa-apa," ucap Daniel.

Masing-masing kolektor memilih barang tertentu untuk dikoleksi, seperti buku, iklan film, jam weker, (bungkus) rokok, kalender, mainan, fashion, perabotan rumah tangga, kacamat, kaset sampai ke aksesoris sepeda ontel. Kategori antik jika barang yang bersangkutan paling muda tahun 1980. Untuk harga, misalnya komik lokal Rp 20.000, gelas PRJ 1979 dihargai Rp 35.000, kacamata Rp 100.000 dan iklan film Rp 50.000. Adapun untuk mainan, sebagaimana dijual Yanuar mulai dari Rp 50.000 – Rp 200.000. “Yang saya koleksi sendiri, tahun 2007 saya beli mainan robot Jepang Rp 200.000. Setelah saya cek di internet ternyata sekarang harganya 1.000 dollar AS,” aku Yanuar.

Para kolektor ini tidak pernah menyangka hobinya mengumpulkan barang yang sebagian besar orang menganggapnya sampah ternyata memiliki nilai ekonomi. Lebih dari itu, ketekunan mereka membuat rantai sejarah bangsa terus turun dari generasi ke generasi. Setidaknya, mulai dari keluarga merekalah rantai itu diteruskan untuk memupuk rasa cinta dan bangga pada tanah air karena bangsa yang besar adalah bangsa yang menghargai sejarahnya. “Anak saya, sering saya ajak ke museum dan galeri. Juga saya ajak untuk gemar membaca,” pungkas Yanuar.

Rabu, 10 Maret 2010

Semua Pakai Nasi Pecel, Bukan Bensin


Berbeda dengan tempat tidur impor Amerika Serikat yang harganya mencapai ratusan juta, tempat tidur kayu jati buatan Pak Basuki asal Malang yang di pamerkan di pameran furniture 2010 Jakarta Convention Center, Minggu (21/2/2010) harganya hanya Rp 26 juta lengkap dengan meja riasnya.

Harga-harga mebel yang dijual Pak Basuki memang tak semahal mebel impor. Namun, kualitas mebel buatannya tak kalah dengan mebel impor. "Wah bisa selamanya (dipakai), makin lama makin mahal, bisa jadi barang antik," kata Basuki.

Semua mebel yang diproduksi industri rumahan Basuki Lacasa dibuat dengan tangan Basuki dibantu tujuh orang pekerjanya. "Semua pakai nasi pecel, bukan bensin," ujar Basuki mengibaratkan.

Karena mengandalkan keahlian tangan tersebut, untuk menghasilkan sebuah mebel seperti tempat tidur, dibutuhkan waktu cukup lama dan menguras tenaga. "Paling lama tempat tidur, sekitar 1,5 bulan. Oh sama kaligrafi surat Yasin, empat bulan setengah satu biji," tutur Basuki.

Meskipun begitu, Basuki tahan menggeluti bisnis ukir mengukir sejak 30 tahun yang lalu. Untuk memperkenalkan barang seni pakai produksinya itu, Basuki mengaku sengaja mengikuti pameran furniture di JCC meskipun biaya menyewa stand di pameran diakuinya cukup mahal. "Nyewanya saja mahal.Belum tentu nutup modal, ini cuma perkenalan saja, nasibnya pengusaha kecil," ujarnya.

Terlihat barang-barang yang dipamerkan Basuki semua terbuat dari kayu seperti jati dan mahoni dengan ukiran tangan yang unik. Ada tempat tidur, bangku, cermin, kaligrafi, patung kuda, lukisan timbul, serta permainan anak-anak tradisional seperti dakon seharga Rp 1,2 juta.

"Saya senang membuat permainan jaman dulu. Cublak-cublak suweng divisualkan ke kayu. Enggrang, dakon, biar pemuda-pemuda tau, mainan dulu kayak gitu," ujar Pria usia 70 tahun berambut putih itu.

Selasa, 09 Maret 2010

Mencuil Bisnis 'Lick Me Baby'


Waralaba tak melulu makanan dan minuman. Waralaba pernah-pernik boneka ala "Lick Me Baby" ini pun menarik untuk Anda lirik. Bentuknya unik karena 'mengemas' manusia dalam boneka.

Waralaba ini dikembangkan oleh vivi dan suaminya Kusnadi Halim Salim. Dengan transfer inovasi dari Jepang, Vivi mengolah foto manusia menjadi 3 dimensi kemudian ditempelkan pada tubuh boneka dengan berbagai variasi yang lucu-lucu.

"Kita mulainya November 2009. Pertama dari Singapura kemudian ke Timur Tengah, Filipina, Australia, baru ke Indonesia. Orang-orang kita kan kalau nggak dari luar dulu biasanya nggak mau," ujar Vivi.

Saat ini, bisnis yang mengusung nama "Lick Me Baby!" ini baru memiliki outlet di Plaza Semanggi. Rencananya pertengahan Maret akan dibuka di Mall Ciputra dan awal April di Medan.

Bisnis inipun merambah melalui jalur franchise dengan modal investasi sebesar Rp 65 juta.

"Dari Rp 65 juta itu dapat pushcart (gerobak), mesin 3D, netbook, printer, dan kamera digital," jelasnya.

Mengenai bagi hasilnya, Vivi menyatakan pihaknya hanya mendapatkan uang dari hasil produksi karena pihaknya yang menyediakan seluruh bahan baku yang diimpornya langsung dari Jepang.

"Bagi hasilnya per harga produksi, kita tidak ada royalti," tegasnya.

Harga per item boneka ini berkisar Rp 49-179 ribu dengan omzet per harinya mencapai Rp 600 ribu. Sampai saat ini, ungkap Vivi, pihaknya tidak memiliki kendala apapun dalam menjalankan bisnis karena belum ada kompetitor yang memiliki barang yang sama.

"Kendala kayaknya nggak ada karena pesaing sampai sekarang belum ada ya," tukasnya.

Senin, 08 Maret 2010

Raup Ratusan Juta dari Bisnis Bantal


Bantal dan guling sudah menjadi kebutuhan mutlak sebagai perangkat untuk tidur. Tapi kini, perangkat untuk tidur seperti bantal dan guling sudah tidak lagi monoton dengan dengan bentuk yang itu-itu saja. Dengan ragam warna dan bentuk yang inovatif, perangkat tidur memiliki tren tersendiri layaknya tren busana.

Beberapa bantal inovasi yang telah sukses di pasaran seperti bantal cinta, bantal selimut atau bamut dan guling selimut atau gulmut. Adalah Natalinda Budi Rahayu yang sukses menjadi produsen bantal inovasi ini sejak 2005. Bahkan, merek dagangnya yang bernama Bale-Bale sudah ia pantenkan sejak tiga tahun lalu. Saat ini kapasitas produksi bantal inovasinya ini mencapai 7.000 unit per bulan. Omzetnya bisa sampai Rp 500 juta per bulan.

Sejalan dengan mematenkan produknya itu, Linda panggilan akrab Natalinda, menawarkan peluang kemitraan bagi masyarakat. Jika ingin menjadi mitra atau agen resmi Bale-Bale, calon mitra harus menyiapkan kocek Rp 25 juta untuk bisa menjual merek resmi Bale-Bale. Biaya kerjasama sebesar itu untuk kurun waktu lima tahun.

Selain itu, mitra juga harus membeli produk Bale-Bale pertama kalinya dengan nominal minimal Rp 25 juta. Kira-kira dengan biaya sebesar itu, mitra akan mendapat 100 unit campuran produk bamut, gulmut dan bedcover. Linda tidak menetapkan biaya royalti bagi mitranya. Bahkan uniknya, ia memberikan garansi selama satu tahun uang dan barang kembali jika ternyata bisnis ini tidak menguntungkan bagi mitra

Minggu, 07 Maret 2010

Bakso Cak Eko Ingin Go International


Tak hanya penyanyi Agnes Monica saja yang go international, ternyata waralaba bakso malang 'Cak Eko' juga ingin merambah dunia internasional. Waralaba milik Henky Eko Sriyantono yang akrab disapa Cak Eko ini ingin go international ke negara-negara ASEAN.

Cak Eko mengatakan rencananya untuk go international ini akan direalisasikan tahun 2010 ini. Namun rencananya ini tidak begitu mulus, dirinya sedang ngebut memenuhi persyaratan legal dan transfer pengetahuan.

"Karena harus transfer knowledege, legal, jadi 6 bulan itu paling cepat," katanya.

Maju terus pantang mundur adalah kalimat tersebut yang pantas terlontarkan untuk Henky Eko Sriyantono atau biasa dipanggil Cak Eko. Sepuluh kali gagal dalam berbisnis, rupanya tidak mengalahkan semangatnya untuk kembali memutar modalnya dalam dunia tersebut.

Cak Eko memulai bisnis bakso malangnya di sebuah pelataran Pujasera di Jatiwarna, Bekasi, Jawa Barat sekitar tahun 2006 dengan bermodalkan Rp 2,5 juta.

"Saya itu menjalankan bisnis dengan modal-modal kecil, tapi frustasi mah pasti pernah, modal jualan bakso awalnya Rp 2,5 juta. Saya cuma bikin gerobak, numpang di pujasera,bagi hasilnya 60% untuk saya 40% untuk yang punya tempat," ujarnya.

Sebelumnya, Cak Eko pernah merambah bisnis pakaian muslim, tanaman jahe, katering, kerajinan barang atik, dan sebagainya. Namun, karena penerimaannya tidak berjalan dengan lancar, dia menghentikan bisnis tersebut. Dengan bermodalkan hobi masaknya sejak SMA, Cak Eko mulai berinovasi ke dunia kuliner dengan membuat usaha bakso Malang tersebut.

"Gagalnya itu mungkin segmen yang saya bidik kurang, waktu katering karena konsumen bosan dengan menu yang saya putar-putar, cash flow-nya tidak harian jadi tidak lancar," ceritanya.

Hanya dalam kurun waktu 10 bulan, bisnis bakso Cak Eko berkembang dengan pesat. Sekitar Oktober 2006, dia mulai mengembangkan brand-nya melalui sistem franchise. Hingga saat ini sekitar 120 outlet Bakso Malang Kota "Cak Eko" tersebar di Indonesia.

"Alasannya untuk memperkenalkan brand dan bagi-bagi rezeki," tuturnya.

Untuk outlet yang tersebar itu, dirinya memberikan bakso dan olahan siomay dan batagor dengan bumbu-bumbu yang telah disiapkan secara instan dalam bentuk bubuk. Terdapat 3 tempat produksi untuk memenuhi permintaan dan suplai ke outlet-outlet.

"Ada 3 tempat produksi, Surabaya untuk menyuplai ke Indonesia Timur, Sidorjo untuk Indonesia Tengah, dan Jakarta untuk Indonesia Barat. Resep rahasia ada keluarga yang saya percaya untuk meng-handle di 3 tempat itu jadi karyawan tidak tahu,"ungkapnya.

Kesuksesan Cak Eko membuat dirinya dipanggil untuk berbagi pengalaman dalam sekolah enterpreneurship bersama Rhenald Khasali. Dia bergabung dalam sekolah ini agar tidak ada orang yeng mengalami pengalaman buruk seperti dirinya dalam berbisnis.

"Supaya mereka tidak mengalami hal yang sama dengan saya sampai 10 kali gagal," kenangnya.

Menurut Cak Eko, kegagalan dalam berbisnis itu bisa disebabkan beberapa hal, seperti kesalahan memilih mitra. Selain itu, bisnis yang pendapatannya tidak harian juga bisa berpotensi kegagalan. Begitu pun karena tidak memisahkan keuangan pribadi dengan bisnis.

"Saya waktu itu tidak memisahkan uang pribadi dan usaha, jadinya kacau," jelasnya.

Cak Eko mengimbau dalam berbisnis, jika terjadi kenaikan harga, sebaiknya pebisnis jangan terlalu terburu-buru menaikkan harga, karena daya beli masyarakat belum tentu naik. Selain itu, pemula sebaiknya jangan terpengaruh dengan iming-iming keuntungan besar dalam berbisnis padahal mereka tidak tahu ilmu mengenai bidang yang akan digelutinya itu.

"Banyak yang tidak tahu ilmu langsung terjun, hanya diming-imingi keuntungannya karena saat ini banyak yang ingin sukses secara instan, prosesnya tidak dilewati langsung lompat-lompat saja. Ini yang jadi masalah," jelasnya.

Untuk mengatasi kompetitor, Cak Eko menyarankan untuk memberikan perbedaan dalam kualitas produk. Hal ini memerlukan inovasi. Selain itu, perlunya penguatan brand melalui promosi.

"Untuk mengatasi kompetitor, menciptakan perbedaan dengan kompetitor melalui kualitas dan promosi. Kuncinya di inovasi dan menjaga kualitas," ujarnya.