Ebiz Ads

Jumat, 30 April 2010

Brand dan Manusia Bisa Saling Belajar di Social Media


Oleh Adhitia Sofyan

“Nanti siang meeting di brand x, mereka mau masuk ke social media”, kata seorang rekan di kantor pagi itu. Yak, meeting dengan agenda ini menjadi sangat sering terjadi sekarang. Semua brand mau masuk ke Facebook, semua brand mau nyemplung di Twitter. Kenapa? Ya simple, karena kita semua sedang ngumpul disitu sekarang, gak lagi melulu di depan tivi, atau radio atau baca media cetak.

Social media adalah tempat manusia biasa (baca : bukan brand) berkumpul dan berkomunikasi. Tentu saja caranya sangat bebas, apa adanya dan spontan, karena Facebook, Twitter dan Blog bukanlah milik brand seperti halnya product site. Cara biasa brand berkomunikasi yang kaku, sangat iklan, selalu ingin sempurna tanpa cacat tidak akan berhasil di social media. Brand harus menyesuaikan diri, melepas atribut-atribut korporatnya yang dinilai kaku dan tampil lebih luwes di social media; jujur, spontan, mendengarkan konsumen, mendengarkan konsumen, mendengarkan konsumen, ya, saya sebut 3 kali memang, dan engage dengan mereka.

Sebaliknya daripada yang diatas (lah…kok kayak srimulat), dengan berpartisipasinya kita (manusia biasa, non-brand) di social media; Facebook, Twitter, blog dsb, mau tidak mau kita sudah menempatkan diri sebagai brand. Kita menulis di online biodata, siapa kita, what we believe and stand for, dan berkomunikasi berdasarkan poin-poin tadi, terkadang kita juga jadi menjaga diri, berhati-hati pasang status FB atau pikir-pikir sebelum nge-tweet biar gak malu-maluin, nah…you’re acting like a brand now!

Sayangnya tidak sedikit manusia (non-brand) yang suka lupa bahwa social media adalah ruang publik; ada friends dan followers yang semuanya bisa melihat apa yang kita ‘sajikan’ di social media. Friends dan followers ini adalah jaringan besar daripada friends dan followers lain yang saling bisa berkomunikasi dan mem-forward konten. Mau tidak mau, dengan keikutsertaan kita di social media berarti kita dengan sukarela telah menjadikan diri kita sebagai bahan tontonan buat orang banyak. Tidak jarang masalah serta konflik personal muncul karena sang manusia kurang bisa menjaga, me-manage dan menahan diri di social media.

Nah, sebetulnya di social media, brand dan manusia bisa saling belajar dari masing-masing. Brand yang terlalu nge-brand; kaku, membosankan, korporatif, takut salah, gak mau dengerin orang, mau sempurna terus dll bisa belajar untuk agak santai dan luwes dari manusia (which I found this should be easy since brands are handled by humans anyway, is that they tend to forget that they are humans and become boring marketing machines when they go to office and become the brand they’re working for).

Now, manusia bisa belajar dari brand dalam berkomunikasi di social media. Mungkin bisa mulai mencantumkan data diri yang kredibel (or yeah..you can keep it as ‘weird space alien dorkface’ if you’d like), mulai me-manage diri dalam ber-social media; apa yang mesti atau tidak semestinya di share ke publik, info apa yang patut dipasang atau tidak, berpikir sebelum nge-tweet, safe atau tidak tweeting-an saya ini, bagaimana kalau dilihat followers, ingat-ingat siapa saja yang mem-follow atau friends kita, apakah kita sudah mempelajari dan memahami cara Facebook dan Twitter (misal) bekerja dll dsb.

- Misal :RT in Twitter does not mean Reply Tweet, and Twitter is not Yahoo Messenger (chatting hahahihi gak penting di Twitter) nor it is an sms-ing platform ,(“Eh, gue udah nyampe nih, lu dimana?” via Twitter). Ignore these and you might be perceived as annoying and ignorant.


Intinya common sense saja, you should act depending on where you are, kalau di kamar mandi, silakang bertingkah seperti di kamar mandi, kalau di warung, monggo bertingkah seperti di warung, kalau di masjid ya sadarlah kalau sedang di masjid, kalau di gala dinner ya you should now what to do, dan demikian pula kalau sedang di social media. Know where you are, brand, manusia, selamat datang di social media, mari saling belajar.

(sumber: www.virtual.co.id)

Menikmati Peluang Usaha Bubur Buah


Bubur atau puree memberikan banyak manfaat bagi para pengusaha buah. Dalam bentuk puree, selain tahan lama, buah juga mudah disimpan. Kepraktisan inilah yang membuat permintaan puree di dalam dan luar negeri cukup besar. Bahkan, pasokan yang ada belum mencukupi.

Kita tidak bisa menyimpan buah segar dalam waktu yang terlalu lama. Karena itu, saat panen melimpah, penyimpanan buah menjadi masalah. Banyak buah yang terbuang sia-sia karena membusuk.

Salah satu solusi masalah ini adalah dengan membuat bubur atau puree dari buah. Maklum, dalam bentuk puree, buah dapat disimpan dengan lebih mudah dan lebih tahan lama.

Sholeh BH Kurdi, pemilik CV Promindo Utama, sudah memproduksi puree buah sejak tahun 2004. Promindo Utama adalah salah satu binaan pengusaha Departemen Pertanian. Promindo juga menjadi proyek percontohan (pilot project) produsen puree di Jawa Barat.

Awalnya, Sholeh hanya ingin menampung sisa panen mangga yang berlimpah di Cirebon sebab buah ini tak dapat bertahan lama dan hanya berbuah pada musimnya.

Nah, dalam bentuk puree, produsen mangga bisa menyimpannya sampai tujuh bulan. "Bisa bertahan hingga musim panen mangga selanjutnya," kata Sholeh.

Untuk membuat puree itu, Sholeh melumatkan buah dan menyaringnya hingga menjadi berbentuk seperti bubur. Ia lalu memproses bubur dengan mesin pasteurisasi sebelum mengemas dan menyimpannya. Dia biasa mengemas puree dalam kemasan botol ataupun jeriken.

Sholeh tak hanya membuat puree dari Mangga. Dia juga memproduksi puree jambu biji, sirsak, stroberi, lemon, dan nanas.

Dia menjual hampir semua produknya dengan harga Rp 15.000 per liter. Cuma harga puree mangga gedong gincu dan stroberi yang berbeda, yakni Rp 20.000 per liter dan Rp 18.000 seliter.

Promindo membuat puree berdasarkan pesanan yang masuk. Tiap bulan, Sholeh menjual tiga sampai lima ton puree. Artinya, Sholeh kira-kira meraup omzet minimal Rp 45 juta per bulan.

Dia mendistribusikan puree ke pabrik jus buah di Jakarta dan Bandung. Konsumen puree lainnya adalah pembeli langsung.

Bubur buah ini memiliki banyak kegunaan, misalnya untuk membuat selai, campuran yoghurt, ataupun topping untuk puding. Bisa juga untuk membuat jus buah untuk konsumsi sendiri ataupun dijual di gerai eceran. Kita tinggal menambahkan gula dan air.

Adapun Sutomo, pemilik PT Semesta Alam Petro, hanya khusus membuat puree buah markisa. Cara pembuatannya sedikit berbeda.

Sutomo mengambil daging markisa dan memisahkan bijinya. Lalu, dia membekukan air sari buah markisa. "Selanjutnya, terserah mau membuat sirup atau jadi bahan kue," kata Sutomo.

Sutomo melihat bisnis puree markisa memiliki pasar yang potensial. Saat ini dia tengah melayani pengiriman puree markisa untuk pasar Australia. Setiap tiga bulan sekali dia mengirim 15 ton puree markisa ke Australia.

Untuk pasar ekspor, Sutomo menjual puree markisa itu seharga 1,9 dollar AS per kilogram. Alhasil, Sutomo meraup omzet Rp 90 juta-Rp 100 juta saban bulan dengan margin keuntungan 30 persen.

Untuk melayani kebutuhan pasar lokal, Sutomo memproduksi puree markisa dalam bentuk sirop. Sirop tersebut terbuat dari sari markisa murni yang dipanaskan dan ditambah gula sebagai pengawet.

Dia menjual sirop markisa ini di Jakarta dan Surabaya dengan harga grosir Rp 10.000 per botol ukuran 500 mililiter. Karena produk baru, Sutomo mengumpulkan omzet Rp 20 juta per bulan. "Marginnya sangat kecil, hanya sekitar 5 persen," kata Sutomo.

Sutomo melihat prospek bisnis puree markisa sangat cerah, khususnya untuk pasar mancanegara. Pasokannya ke Australia itu hanya separuh dari permintaan pasar di sana. Adapun kebutuhan puree markisa di Eropa mencapai 120.000 ton setahun. Kebutuhan tersebut merupakan 30 persen total dari kebutuhan dunia. Minat?

Rabu, 28 April 2010

Petersaysdenim, dari Bandung untuk Dunia


Sewaktu masih duduk di bangku sekolah menengah atas, Peter Firmansyah terbiasa mengubek-ubek tumpukan baju di pedagang kaki lima. Kini, ia adalah pemilik usaha yang memproduksi busana yang sudah diekspor ke beberapa negara.

Tak butuh waktu relatif lama. Semua itu mampu dicapai Peter hanya dalam waktu 1,5 tahun sejak ia membuka usahanya pada November 2008. Kini, jins, kaus, dan topi yang menggunakan merek Petersaysdenim, bahkan dikenakan para personel kelompok musik di luar negeri.

Sejumlah kelompok musik itu seperti Of Mice & Man, We Shot The Moon, dan Before Their Eyes, dari Amerika Serikat, I am Committing A Sin, dan Silverstein dari Kanada, serta Not Called Jinx dari Jerman sudah mengenal produksi Peter. Para personel kelompok musik itu bertubi-tubi menyampaikan pujiannya dalam situs Petersaysdenim.

Pada situs-situs internet kelompok musik itu, label Petersaysdenim juga tercantum sebagai sponsor. Petersaysdenim pun bersanding dengan merek-merek kelas dunia yang menjadi sponsor, seperti Gibson, Fender, Peavey, dan Macbeth.

Peter memasang harga jins mulai Rp 385.000, topi mulai Rp 200.000, tas mulai Rp 235.000, dan kaus mulai Rp 200.000. Hasrat Peter terhadap busana bermutu tumbuh saat ia masih SMA. Peter yang lalu menjadi pegawai toko pada tahun 2003 kenal dengan banyak konsumennya dari kalangan berada dan sering kumpul-kumpul. Ia kerap melihat teman-temannya mengenakan busana mahal.

”Saya hanya bisa menahan keinginan punya baju bagus. Mereka juga sering ke kelab, mabuk, dan ngebut pakai mobil, tapi saya tidak ikutan. Lagi pula, duit dari mana,” ujarnya.

Peter melihat, mereka tampak bangga, bahkan sombong dengan baju, celana, dan sepatu yang mereka dipakai. Harga celana jins saja, misalnya, bisa Rp 3 juta. ”Perasaan bangga seperti itulah yang ingin saya munculkan kalau konsumen mengenakan busana produk saya,” ujarnya.

Peter kecil akrab dengan kemiskinan. Sewaktu masih kanak-kanak, perusahaan tempat ayahnya bekerja bangkrut sehingga ayahnya harus bekerja serabutan. Peter pun mengalami masa suram. Orangtuanya harus berutang untuk membeli makanan.

Pernah mereka tak mampu membeli beras sehingga keluarga Peter hanya bergantung pada belas kasihan kerabatnya. ”Waktu itu kondisi ekonomi keluarga sangat sulit. Saya masih duduk di bangku SMP Al Ma’soem, Kabupaten Bandung,” kata Peter.

Sewaktu masih SMA, Peter terbiasa pergi ke kawasan perdagangan pakaian di Cibadak, yang oleh warga Bandung di pelesetkan sebagai Cimol alias Cibadak Mall, Bandung. Di kawasan itu dia berupaya mendapatkan produk bermerek, tetapi murah. Cimol saat ini sudah tidak ada lagi. Dulu terkenal sebagai tempat menjajakan busana yang dijual dalam tumpukan.

Selepas SMA, ia melanjutkan pendidikan ke Universitas Widyatama, Bandung. Namun, biaya masuk perguruan tinggi dirasakan sangat berat, hingga Rp 5 juta. Uang itu pemberian kakeknya sebelum wafat. Tetapi, tak sampai sebulan Peter memutuskan keluar karena kekurangan biaya. Ia berselisih dengan orangtuanya—perselisihan yang sempat disesali Peter—karena sudah menghabiskan biaya besar.

Mulai dari nol

Ia benar-benar memulai usahanya dari nol. Pendapatan selama menjadi pegawai toko disisihkan untuk mengumpulkan modal. Di sela-sela pekerjaannya, ia juga mengerjakan pesanan membuat busana. Dalam sebulan, Peter rata-rata membuat 100 potong jaket, sweter, atau kaus. Keuntungan yang diperoleh antara Rp 10.000- Rp 20.000 per potong.

”Gaji saya hanya sekitar Rp 1 juta per bulan, tetapi hasil dari pekerjaan sampingan bisa mencapai Rp 2 juta, he-he-he…,” kata Peter. Penghasilan sampingan itu ia dapatkan selama dua tahun waktu menjadi pegawai toko hingga 2005.

Pengalaman pahit juga pernah dialami Peter. Pada tahun 2008, misalnya, ia pernah ditipu temannya sendiri yang menyanggupi mengerjakan pesanan senilai Rp 14 juta. Pesanannya tak dikerjakan, sementara uang muka Rp 7 juta dibawa kabur. Pada 2007, Peter juga mengerjakan pesanan jins senilai Rp 30 juta, tetapi pemesan menolak membayar dengan alasan jins itu tak sesuai keinginannya.

”Akhirnya saya terpaksa nombok. Jins dijual murah daripada tidak jadi apa-apa. Tetapi, saya berusaha untuk tidak patah semangat,” ujarnya.

Belajar menjahit, memotong, dan membuat desain juga dilakukan sendiri. Sewaktu masih sekolah di SMA Negeri 1 Cicalengka, Kabupaten Bandung, Peter juga sempat belajar menyablon. Ia berprinsip, siapa pun yang tahu cara membuat pakaian bisa dijadikan guru.

”Saya banyak belajar sejak lima tahun lalu saat sering keliling ke toko, pabrik, atau penjahit,” katanya. Ia juga banyak bertanya cara mengirim produk ke luar negeri. Proses ekspor dipelajari sendiri dengan bertanya ke agen-agen pengiriman paket.

Sejak 2007, Peter sudah sanggup membiayai pendidikan tiga adiknya. Seorang di antaranya sudah lulus dari perguruan tinggi dan bekerja. Peter bertekad mendorong dua adiknya yang lain untuk menyelesaikan pendidikan jenjang sarjana. Ia, bahkan, bisa membelikan mobil untuk orangtuanya dan merenovasi rumah mereka di Jalan Padasuka, Bandung.

”Kerja keras dan doa orangtua, kedua faktor itulah yang mendorong saya bisa sukses. Saya memang ingin membuat senang orangtua,” katanya. Jika dananya sudah mencukupi, ia ingin orangtuanya juga bisa menunaikan ibadah haji.

Meski kuliahnya tak rampung, Peter kini sering mengisi seminar-seminar di kampus. Ia ingin memberikan semangat kepada mereka yang berniat membuka usaha. ”Mau anak kuli, buruh, atau petani, kalau punya keinginan dan bekerja keras, pasti ada jalan seperti saya menjalankan usaha ini,” ujarnya.

Merek Petersaysdenim berasal dari Peter Says Sorry, nama kelompok musik. Posisi Peter dalam kelompok musik itu sebagai vokalis. ”Saya sebenarnya bingung mencari nama. Ya, sudah karena saya menjual produk denim, nama mereknya jadi Petersaysdenim,” ujarnya tertawa.

Peter memanfaatkan fungsi jejaring sosial di internet, seperti Facebook, Twitter, dan surat elektronik untuk promosi dan berkomunikasi dengan pengguna Petersaysdenim. ”Juli nanti saya rencana mau ke Kanada untuk bisnis. Teman-teman musisi di sana mau ketemu,” katanya.

Akan tetapi, ajakan bertemu itu baru dipenuhi jika urusan bisnis selesai. Ajakan itu juga bukan main-main karena Peter diperbolehkan ikut berkeliling tur dengan bus khusus mereka. Personel kelompok musik lainnya menuturkan, jika sempat berkunjung ke Indonesia ia sangat ingin bertemu Peter. Ia melebarkan sayap bisnis untuk memperlihatkan eksistensi Petersaysdenim terhadap konsumen asing.

”Pokoknya, saya mau ’menjajah’ negara-negara lain. Saya ingin tunjukkan bahwa Indonesia, khususnya Bandung, punya produk berkualitas,” ujarnya.

Sabtu, 24 April 2010

Kerajinan Bambu Tembus Supermarket


Produk kerajinan bambu berupa peralatan rumah tangga seperti tambir dan kalo dari Bantul telah menembus sejumlah supermarket besar di Jakarta. Sebagian lainnya dipesan pada tingkat regional, seperti Solo, Purwodadi, Grobogan, dan Kroya.

Selain tambir dan kalo sebagai produk andalan, perajin juga memproduksi jenis lainnya, seperti irik, kursi, tempat tisu, cething (tempat nasi), kotak serbaguna, nampan, besek, krakat dimsum, piring bulat, tudung saji, dan besek.

Suryanto, salah seorang perajin bambu di Wukirsari, Imogiri, Bantul. Dia mengatakan, produksi jenis ini sangat tergantung pada pesanan sehingga pengembangannya pun menjadi sulit.

Untuk satu batang bambu dengan panjang sekitar 4 m yang dibeli dengan harga Rp 7.500 dapat diproduksi lebih kurang 30 tambir. Pembuatan 30 tambir tersebut dapat diselesaikan selama 2 hari oleh dua orang pekerja. Jika harga jual satu buah tambir Rp 2.700 dan biaya produksi diperkirakan Rp 1.000 per tambir, pendapatan perajin per tambir sebesar Rp 1.700.

Dengan demikian, dalam waktu satu bulan perajin bambu bisa memperoleh pendapatan dari usahanya tersebut sebesar Rp 765.000. Bila home industry ini mempekerjakan lebih dari 2 orang tenaga kerja, dapat diperkirakan bahwa usaha ini mampu menghidupi seluruh anggota keluarga.

Harumnya Laba Kopi Rasa Buah


Bisnis minuman kopi merupakan bisnis yang berumur panjang. Soalnya, penggemar kopi sudah ada sejak dulu dan terus ada hingga sekarang. Masyarakat pun semakin kreatif meracik varian kopi.

Salah satu varian yang mulai tren akhir-akhir ini adalah kopi bercampur ekstrak buah. Adalah Ala'din F&B Management yang mencoba memopulerkan kopi rasa buah di Bandung, sejak Januari lalu.

Salah satu pemilik Ala'din F&B Management, Taufik Effendi, menuturkan, ide bisnis ini berawal dari keinginannya menikmati kopi beraroma buah seperti yang dilakukan penduduk di Lampung. Ketika coba meracik kopi dengan sirup, dia gagal mendapatkan rasa yang pas. "Rasa buahnya kalah tertutupi kopi," kisah Taufik membuka obrolan.

Lalu, dia menggandeng rekannya yang merupakan pedagang sekaligus peracik kopi di Lampung. Setelah itu, ia berhasil mendapatkan komposisi kopi dan buah yang pas. Lantas, dia berpikir membisniskan bubuk kopi rasa buah itu.

Dia mulai menyusun konsep usaha kopi buah bertipe booth dengan merek dagang Fruit Coffee Ala'din. Nama ini dipakai karena masih satu grup dengan kemitraan Pisang Ijo Ala'din. Ada tujuh varian kopi yang disediakan, yaitu Original, Stroberi, Durian, Melon, Moka, Lychee, dan Anggur.

Dia menawarkan paket kemitraan ini sejak Januari lalu. Saat ini sudah ada tujuh mitra di Bandung, lima mitra di Jakarta dan Tangerang, dan lima mitra di Sumatera Barat.

Menurut Taufik, pihaknya tidak mengoperasikan gerai sendiri supaya fokus mengembangkan dan memasarkan produk, serta mengelolanya. "Dengan cara ini, kami berharap brand berkembang lebih cepat, tanpa harus keluar modal besar," ungkapnya.

Produk tak mudah basi

Tidak sulit menjadi mitra Fruit Coffee Ala'din. Mitra cukup menyiapkan lokasi, karyawan dan investasi Rp 7,5 juta. Modal itu mencakup satu booth, shaker, termos es, pemanas air, seragam, pelatihan pegawai, dan initial fee selama lima tahun.

Keunggulan bisnis ini karena produk yang dijual tidak mudah basi. Bahan bubuk kopi siap saji bisa tahan sampai tiga bulan. Selain itu, belum banyak pesaing sehingga pasar masih terbuka. Taufik juga memastikan pasokan bahan baku bagi mitra. "Kami mengemas dalam sachet supaya menjaga kualitas produk di setiap gerai," ungkapnya.

Harga secangkir fruit coffee minimal Rp 5.500. Mitra boleh menjual lebih mahal, sesuai lokasi. Setidaknya, mitra mengantongi keuntungan bersih Rp 2.500 per cup.

Menurut Taufik, kopi aroma buah ini sebaiknya dipasarkan di sekitar sekolah atau kampus. Cuma, kelemahannya, saat liburan, mitra harus mencari tempat alternatif.

Taufik memperkirakan, penjualan harian setiap gerai sekitar 50 cup atau sachet. Alhasil, mitra bisa balik modal dalam hitungan 4 bulan.

Salah satu mitra Fruit Coffee Ala'din di Bandung, Desy Amaliati Setiawan, menuturkan, ia memilih kemitraan ini karena produknya unik. Selain itu, nilai investasinya cukup terjangkau.

Booth miliknya beroperasi sejak Februari silam. Ia menempatkan booth di salah satu rumah makan yang aksesnya dekat dengan kampus. Namun, karena produk baru, dia harus rajin mempromosikan dagangannya, seperti lewat Facebook dan membuat sampel dalam cangkir kecil. "Dengan penjualan berkisar 30-60 cup sehari, saya berharap balik modal dalam hitungan lima bulan," katanya

Rabu, 21 April 2010

Marni, Menyulam Modal Rp 50.000 jadi Ratusan Juta


Manusia berhak mengubah nasib masing-masing. Jalan menyulam dipilih Marni Nazarudin (39) pada 2005 dan mengantarkan dirinya menjadi perajin sulaman usus, kerajinan kain khas Lampung, yang terbilang sukses.

Perkenalan Marni dengan sulaman usus dalam bentuk kebaya terjadi tahun 1998. Saat itu ia bekerja di bagian desain kain tapis atau kain khas Lampung dan bordir di galeri dan butik milik Aan Ibrahim, desainer asal Lampung. ”Waktu itu saya hanya tahu soal sulaman usus, belum bersentuhan langsung,” ujar Marni.

Keterlibatan Marni yang sesungguhnya terjadi pada akhir tahun 2005. Sejak tahun 2003 suaminya tidak lagi bekerja di sebuah bank swasta. Ia sendiri sudah berhenti bekerja sejak akhir tahun 1998. Marni lantas mencari tambahan penghasilan dengan membuka warung makanan. Namun, usaha itu tidak menghasilkan. Kondisi keuangan keluarga kian terpuruk.

Pilihan membuat sulaman usus diambil ketika perempuan berasal dari Kebumen, Jawa Tengah, itu menyadari, ia punya keterampilan membuat rancangan baju atau gaun berbahan sulaman usus. Dengan modal Rp 50.000, ia membeli 2 meter kain dan menjadikannya bolero atau baju atasan berbentuk rompi. ”Kain yang saya beli itu saya potong, jahit, dan saya jadikan sulaman usus, yang pada akhirnya saya bentuk menjadi bolero,” ujar Marni, ibu dari Dinni Citra N (16) dan Nabilla Zahara (11).

Baju kreasinya itu laku Rp 300.000. Marni pun giat membuat rancangan baju lain dari sulaman usus dan menjualnya.

Pada akhir tahun 2005 rancangan baju Marni memenangi juara pertama lomba desain baju kasual berbahan sulaman usus yang diselenggarakan Dewan Kerajinan Nasional Lampung. Marni pun berpartisipasi pada International Handicraft Trade Fair atau Inacraft di Jakarta tahun 2006.

Kepada pengunjung stannya, Marni menjelaskan, sulaman usus merupakan sulaman khas Lampung. Awalnya, sulaman usus hanya sebagai bebe atau kain penutup dada pada baju pengantin perempuan adat Lampung. Sulaman usus kemudian dikreasikan sebagai baju, kebaya, atau gaun.

Sulaman usus dibuat dari kain, biasanya kain satin atau sutra. Kain dibentuk segitiga dan dengan mesin dipotong memanjang seperti lembaran pita. Lembaran pita itu dijahit sisi kanan kirinya dan dibalik dengan menggunakan lidi.

Setelah dirapikan, lembaran pita berubah bentuk menjadi seperti pipa-pipa pipih panjang menyerupai usus ayam. Muncullah istilah sulaman usus. Untuk membuat kebaya, gaun, atau baju, perajin akan menempelkan pita-pita usus ke pola baju, kebaya, atau gaun yang sudah dibuat dengan cara menjahit.

Di pola tersebut perajin lantas merajut pita-pita usus dengan benang nilon dan menyulam aneka motif. Bahan kain yang lembut dan jatuh memungkinkan pembentukan motif-motif tersebut.

Berkat produk yang rapi dan menarik, kreativitas Marni di Inacraft 2006 dilirik Gobin Dram Ghurbani, pemilik toko tekstil dan butik Apique Silk Route di Jalan Mayestik, Kebayoran, Jakarta. Mr Gobin pun menjadi bapak angkat bagi Marni yang menamakan produksi gaun, kebaya, dan baju sulaman ususnya Nabilla. ”Mr Gobin menyediakan kain sutra yang saya butuhkan. Terkadang Mr Gobin mengirim desain baju atau gaun dan saya yang membuatnya dari bahan sulaman usus,” ujar Marni.

Mr Gobin pula yang menyemangati Marni untuk maju. ”Bayangkan, beliau datang ke rumah saya tahun 2006 yang saat itu masih gedek. Melihat kondisi saya, beliau menyemangati, saya harus bisa maju dalam dua tahun,” ujar Marni.

Lewat Mr Gobin, rancangan Marni mulai dikenal pasar luar negeri, seperti Singapura dan India. Peluang ini membuat Marni terpacu berkarya. Jumlah pemesan terus meningkat.

Marni pun mulai memberdayakan warga kampung tetangganya yang umumnya berpenghasilan rendah. Apalagi, produk Marni banyak dikerjakan secara nonmesin sehingga waktu produksi yang lama diatasi dengan memperbanyak tenaga kerja.

Untuk membuat satu kebaya dibutuhkan waktu satu sampai satu setengah bulan. Sementara baju-baju kasual membutuhkan waktu pembuatan satu minggu.

Oleh karena itu, Marni dan suaminya, Nazarudin (42), pun melatih ibu-ibu di kampungnya di Kecamatan Natar, Lampung Selatan. Satu kelompok di setiap desa khusus membuat pita-pita usus, kelompok lain khusus menempel pita-pita usus, ada kelompok lain desa lain yang khusus menyulam.

Saat ini ada 87 ibu rumah tangga yang ikut bekerja dalam usaha sulaman usus Marni. Aktivitas ini bisa membantu menambah penghasilan keluarga di satu sisi dan mempercepat proses produksinya di sisi lain.

Usaha Marni tidak lepas dari bantuan permodalan dari PT Pos Indonesia sebesar Rp 40 juta tahun 2007. Modal tersebut dengan cepat dia lunasi. Marni selanjutnya menjadi mitra binaan PT Perkebunan Nusantara VII melalui Program Kemitraan dan Bina Lingkungan. Ia mendapat pinjaman lunak sebesar Rp 15 juta dan Rp 40 juta selama tahun 2007-2008. ”Saya lunasi tepat waktu,” ujar Marni.

Sejak tahun 2005 hingga kini Marni menghasilkan 200-an rancangan desain. Sulaman ususnya juga tidak hanya kebaya, gaun malam, ataupun baju kasual. Karya Marni muncul juga dalam bentuk tank top atau baju atasan seperti singlet bertali tipis, peci, hingga taplak meja dan sarung bantal.

Kisah pengembangan rancangan produk, menurut Marni, cukup unik. Setelah kenal Mr Gobin, artis Vicky Burki dan Ria Irawan datang ke outlet milik Marni, meminta dibuatkan tank top dari bahan sulaman usus.

Rancangan produk tank top tersebut kini sangat disukai di Bali dan Singapura. Sementara rancangan kebaya atau gaun malam disukai di Kalimantan. Tahun 2010 Marni berencana membuka dua outlet baru, di Bali dan Kalimantan.

Marni sudah punya outlet di Lampung. Dia juga bekerja sama dengan butik Mr Gobin di Jakarta dan Pands’ Collection di Semarang, Jawa Tengah. Apabila konsumen Jakarta menyukai rancangan kebaya, gaun, dan baju kasual, konsumen di Semarang menyukai peci dan terkadang kebaya sulaman usus.

Sebagai produk buatan tangan dan dirancang satu desain untuk satu pembeli, Marni mematok harga sesuai dengan upaya produksi. Ia mematok harga satu juta hingga dua juta rupiah untuk kebaya, gaun malam, ataupun baju kasual. Peci sulaman usus per satuan dijual Rp 75.000-Rp 80.000. Produk tank top Rp 400.000 per potong.

Marni pun kini terus mengucap syukur. Omzet Marni yang semula Rp 17 juta kini mencapai Rp 100 juta per bulan. Rumah Marni sudah megah.

Marni kini tertantang agar bisa menghasilkan baju atau gaun dengan sulaman usus tidak hanya terbuat dari satin atau sutra polos, tetapi juga dari bahan lain. Marni tetap optimistis karya barunya itu bisa ia hadirkan pada ajang Inacraft 2010.
Omzet Marni yang semula Rp 17 juta kini mencapai Rp 100 juta per bulan.

Minggu, 18 April 2010

Asri Tadda, Maju dengan Sekolah Blogger


Mungkin agak aneh terdengar, kalau bikin blog mesti ada sekolahnya. Akan tetapi, itulah bisnis blog yang dijadikan peluang oleh Asri Tadda, pemuda Luwu Timur, Sulawesi Selatan, untuk membangun semangat kewirausahaan mandiri tanpa harus memiliki kantor.

Kegetolan Asri Tadda (29) mampir di warung internet telah mengubah kehidupannya, bahkan mengubah arah cita-cita sebagai dokter sebagaimana diharapkan orangtuanya. Padahal, ke warung internet (warnet) itu dilakukan di sela-sela kuliah di Fakultas Kedokteran Universitas Hasanuddin, Makassar.

Alasan sulitnya membiayai kuliah membuat pemuda kelahiran Pabeta, Kabupaten Luwu Timur, Sulawesi Selatan, itu memulai bisnis online sejak awal tahun 2007. Asri menekuni aktivitas online sebetulnya sudah sejak akhir tahun 2005.

Menurut suami Dewi Hastuty Sjarief ini, kegemarannya mampir di warnet bikin kesal keluarganya. Karena menekuni bisnis online, kuliahnya sempat tersendat-sendat. Namun, beginilah cara Asri membiayai kuliahnya.

Maklum, Asri mengaku hanyalah seorang pengelola petak pertambakan air asin dan penggiling gabah. Itulah modal untuk membiayai kuliahnya.

Padahal, di warnet itulah Asri menghabiskan waktunya membaca kisah-kisah sukses pengusaha besar. Sampai-sampai, dirinya tertarik untuk bisa berwirausaha. Syukur-syukur bisa membuka lapangan kerja bagi orang lain. ”Dari membaca-baca, terutama informasi masalah sosial, saya menulis berbagai opini di surat kabar lokal,” kata Asri.

Awal tahun 2007 Asri mengenal bisnis blogging melalui program blog advertising. Perkenalannya dengan dunia blog dimulai dari aktivitas untuk menulis dan memublikasikan artikel, puisi, dan tulisan curahan hati alias curhat secara online pada media hosting blog gratis.

Karena rajin mencari informasi seputar bagaimana cara menghasilkan uang dari internet, akhirnya Asri menemukan titik terang dalam bisnis online hingga saat ini.

Asri mengakui, hambatan terbesarnya adalah keterampilan. Dia sama sekali tidak punya dasar pengetahuan tentang internet dan website sehingga awal perjalanan bisnis online-nya sangat lambat. Semua prosesnya otodidak. ”Saya hanya mahasiswa kedokteran biasa yang kebetulan tertarik dengan dunia blogging dan internet marketing,” kata Asri.

Hingga saat ini dia memiliki sekitar 200 blog dengan berbagai tema dan semuanya disajikan dalam bahasa Inggris. Meskipun sibuk, Asri menyempatkan diri meng-update blog-blog tersebut. Bahkan, dia punya target membuat 2-3 blog baru setiap bulan. Semua ini sebenarnya menjadi investasi bisnis online ke depan.

Bisnis serius

Sejak April 2009, Asri bersama rekan-rekannya di AstaMedia Group meluncurkan AstaMedia Blogging School pada bulan Maret 2009 di Makassar. Namun, sekolah itu baru diluncurkan secara resmi ke publik pada 16 Mei 2009.

Tujuannya adalah berbagi peluang mendapatkan penghasilan dan membuka lapangan pekerjaan alternatif, khususnya bagi generasi muda. Di AstaMedia Blogging School, ada tiga program pelatihan, yaitu Blogging Basic untuk para pemula, Blogging Pro untuk mereka yang sudah fokus mengelola dan mengoptimalkan blog sebagai sumber penghasilan, dan Blogging for Professionals untuk mereka yang memiliki profesi tertentu, tetapi sangat ingin belajar blogging.

Asri menjamin, dalam masa maksimal tiga bulan setelah proses pendidikan dan pelatihan selesai, para siswa yang sudah lulus di Blogging Pro akan memiliki penghasilan dari blog-blog mereka. Apalagi, tenaga pengajarnya adalah para bloger senior yang sudah malang melintang dalam dunia blog advertising dan menghasilkan banyak uang dari blogging sehingga secara tidak langsung juga turut menumbuhkan motivasi bagi para siswa.

Target utama Blogging School ini adalah kalangan generasi muda. Namun, dirinya tidak menutup diri jika ada kalangan masyarakat umum. Saat ini ada sekitar 100 siswa dari berbagai latar belakang dan profesi. Sebagian besar di antara mereka kini sudah berpenghasilan di atas 250 dollar AS atau Rp 2 juta per bulan.

”Memang, mengajarkan blog kepada mereka yang sudah melek internet dan sedikit paham bahasa Inggris jauh lebih mudah ketimbang terhadap mereka yang sama sekali buta internet. Ini adalah tantangan kami di AstaMedia Blogging School,” kata Asri, yang pernah juara kedua Wirausaha Muda Mandiri (WMM) tingkat nasional tahun 2008.

Dapat dikenal

Pengetahuan blogging diharapkan dapat dikenal oleh semua lapisan masyarakat Indonesia dan menjadi lapangan kerja alternatif yang minim modal, tetapi dengan potensi yang sangat besar.

Asri mengakui, ada beberapa orang yang menyangsikan bisnisnya karena ilmu blogging sesungguhnya sudah sangat berlimpah di internet. Hanya saja, tidak semua orang bisa belajar tanpa pendampingan. Buktinya, tingkat kesuksesan AstaMedia Blogging School kini mencapai 85 persen. Artinya, hanya sekitar satu orang dari setiap kelas yang menemui hambatan berarti dalam mencapai penghasilan online.

Saat ini Asri mengatakan sudah menghasilkan 12 angkatan alumni Blogging Pro dan 20 angkatan tingkat dasar. Siswa di AstaMedia Blogging School memang diberikan jaminan, dalam masa maksimal tiga bulan akan mendapatkan penghasilan online dari blog. Hal ini sudah dibuktikan pada semua angkatan alumni.

Bahkan, sebagian besar dari siswa sudah menghasilkan uang dari blog mereka pada akhir bulan pertama masa belajar atau malah ketika sedang mengikuti pelajaran kelas.

Sabtu, 17 April 2010

Ade dan Kolam Terpal Lele Sangkuriang


Memasuki Kampung Cibeureum RT 08 RW 08, Kelurahan Mulyaharja, Kecamatan Bogor Selatan, Kota Bogor, terlihat berjajar sekitar 100 kolam terpal warna oranye tempat pembenihan ikan lele sangkuriang. Kampung yang dikenal sebagai sentra perajin sandal ini, kini menjadi sentra usaha pembenihan ikan lele sangkuriang. Ini berkat ketekunan Ade Mulyadi (32), anak kedua dari enam bersaudara pasangan Muchtar (59) dan Rohani (56), sejak dua tahun yang lalu.

Keberhasilan Ade mengembangkan usahanya seperti saat ini tentu tak lepas dari mental bajanya yang pantang menyerah. Meskipun kaki kanannya cacat karena polio sejak usia 3 tahun, dia berhasil mengembangkan usaha pembenihan ikan lele sangkuriang, lele biakan baru yang kini semakin populer, terutama di Bogor.

Pengembangan usaha baru, yakni pembenihan ikan lele oleh pemuda itu, boleh disebut sebagai pelopor usaha pembenihan ikan di sentra perajin sandal Cibeureum. Usahanya bukan main-main. Ade bersama 4 pekerjanya tiap hari mengawasi, merawat sekitar 100 kolam pembenihan, dan menabur pakan untuk benih ikan secara tepat waktu dan tepat takarannya. Kolam ikan itu tampak unik karena dibuat khusus dengan menggunakan terpal warna oranye yang biasa digunakan untuk tenda.

Menurut Ade, usaha pembenihan ikan lele sangkuriang ini diawali dengan kegagalan dalam mengembangkan usaha pembenihan ikan lele dumbo yang dimodali ayahnya. Saat itu, lebih dari Rp 75 juta uang yang dikeluarkan ayahnya untuk modal usaha pembenihan ikan lele dumbo amblas.

”Tak pernah dijual, benih ikan itu mati diduga terserang penyakit,” kata Muchtar, ayah Ade. Sebelum bergabung dengan anaknya mengusahakan pembenihan lele sangkuriang, Muchtar adalah pedagang di pasar dan perajin sandal.

Belajar

Suatu hari, Muchtar yang beralih profesi menjadi pembenih ikan lele ini memperoleh keterangan tentang ”pendekar lele sangkuriang” Nasrudin, di Kampung Sukabirus, Desa Gadog, Kecamatan Megamendung, Kabupaten Bogor. Maka, dia pun mendatangi Nasrudin untuk mencari tahu atau ”berguru” ilmu perlelean.

Namun, Muchtar tidak lantas berguru secara langsung. Setelah pertemuan dengan Nasrudin dan mendapat gambaran mengenai usaha itu, Muchtar kemudian mengutus Ade untuk mengikuti pelatihan kepada Nasrudin. Setelah itu, Muchtar menyusul bersama dua anaknya yang lain, Wawan dan Trimulyana, untuk menimba ilmu mengenai pembenihan lele.

Ternyata, untuk menimba ilmu tentang lele tidak perlu waktu berminggu-minggu, berbulan-bulan, apalagi bertahun-tahun. Ade mengikuti pelatihan hanya selama 3 hari di pusat pelatihan lele Nasrudin di Kampung Sukabirus. Dia sudah memperoleh ”jurus-jurus” jitu cara memelihara, memberikan pakan, dan mengatasi penyakit ikan secara tepat.

Tanpa menunggu waktu lagi, bekal pengetahuan itu langsung diterapkan di lapangan. Kolam-kolam pun dibuat tidak dengan menggali tanah, sebagaimana layaknya kolam ikan yang kita kenal selama ini. Mereka menggunakan terpal untuk membuat ”kolam-kolam” itu, dan kemudian diisi benih ikan lele sangkuriang. Rupanya tanda-tanda keberhasilan usaha lele itu mulai tampak.

”Berangsur-angsur usaha kami itu, berhasil,” kata Ade, akhir Maret lalu. Kematian benih lele seperti yang terjadi saat mengembangkan lele dumbo bisa mereka atasi. Perlakuan khusus bisa menekan angka kematian benih. Saat ini, usaha mereka sudah jauh berkembang. Siang itu, misalnya, Ade baru saja melayani pembeli benih lele sangkuriang ukuran 4-6 cm sebanyak 4.000 ekor.

Kewalahan

Diawali dari 10 kolam terpal ukuran 2 x 4 meter untuk pembenihan, kini Ade yang mengembangkan usaha bersama ayah dan adiknya memiliki sekitar 100 kolam pembenihan ikan lele sangkuriang. Muchtar sendiri juga memiliki sekitar 10 kolam pembesaran ukuran 10 x 10 meter.

Satu paket induk lele sangkuriang terdiri dari 10 betina dan 5 jantan. Ade membeli induk lele pada Nasrudin seharga Rp 800.000 per paket. Sejak menetas sampai dipanen, usia benih ikan lele sangkuriang ukuran 4-6 cm butuh waktu sekitar 50 hari. Setiap ekor induk lele sangkuriang bisa menghasilkan 70.000–100.000 ekor benih.

”Saat ini, setiap bulan kami baru bisa menjual 300.000 benih dengan harga Rp 150 per ekor,” kata Ade. Pesanan benih lele memang terus mengalir. Namun, tidak semua pesanan itu mampu dipenuhi. Ade mencontohkan, adanya permintaan benih sebanyak 1 juta ekor setiap bulan dari pembeli warga Tangerang, Banten, tetapi permintaan itu tidak sanggup mereka penuhi.

”Untuk melayani peternak ikan lele sangkuriang di daerah Kabupaten/Kota Bogor dan sekitarnya saja, kami masih kewalahan,” kata Ade. Melihat kondisi seperti itu, Ade mencari jalan keluar dengan menyiapkan 10 orang binaan sebagai pembenih ikan lele sangkuriang.

Sementara Muchtar yang memiliki 10 kolam pembesaran mengisi kolamnya dengan 10.000 ekor benih ukur 4–6 cm. Dari 10.000 benih ini, setelah 45 hari dapat dipanen 1 ton ikan lele ukuran 6–7 ekor per kg. Harga jualnya saat ini Rp 10.500 per kg. ”Dari panen 1 ton ikan itu, dipotong pakan dan biaya pemeliharaan, masih ada keuntungan sekitar Rp 3 juta,” kata Muchtar.

Ade dan ayahnya, sebagai keluarga pelopor usaha pembenihan ikan lele di sentra Perajin Sandal Cibeureum ini, sekarang sering menerima kunjungan tamu yang ingin belajar budidaya ikan lele sangkuriang, baik untuk pembenihan maupun pembesaran. ”Kami dengan senang hati menjelaskan bagaimana caranya menjadi pembudidaya ikan lele sangkuriang,” kata Ade.

Dia mengatakan, pihaknya memang berkonsentrasi di bidang pembenihan untuk memasok mereka yang berusaha di bidang pembesaran lele sangkuriang. ”Lebih menguntungkan jadi pembenih daripada pembesar ikan,” kata Ade, seraya menambahkan bahwa kerugian puluhan juta rupiah yang dideritanya dua tahun yang lalu berangsur-angsur dapat ditutupi dari keuntungan penjualan benih ikan.

Jumat, 16 April 2010

Ebiz News


Pembiayaan UMKM Jangan Cuma Ciptakan Pedagang

Suntikan permodalan harus mengutamakan penciptaan kegiatan produktif, bukan usaha yang hanya mendorong kegiatan konsumtif. Janganlah bantuan permodalan usaha mikro, kecil, dan menengah yang ditujukan sebagai penunjang peningkatan daya saing hanya menciptakan sebuah generasi pedagang.

Hal itu dikemukakan Direktur Utama Lembaga Pengelola Dana Bergulir (LPDB) Fajar Sofyar dalam seminar Himpunan Pengusaha Muda Indonesia (Hipmi) Jaya bertajuk ”Menciptakan Fasilitas Pembiayaan dari Pemerintah untuk Meningkatkan Daya Saing Koperasi dan UMKM dalam Menghadapi ACFTA” di Jakarta, Kamis (15/4/2010).

Dalam kesempatan itu, LPDB dan Koperasi Hipmi Jaya menandatangani nota kesepahaman untuk mendukung pembiayaan yang bersifat produktif. Dana yang disalurkan tetap menunggu verifikasi sesuai dengan kebutuhannya.

Fajar menegaskan, ”Tidak ada tempat bagi kredit konsumtif yang mendapatkan bantuan permodalan dari kami. Selama ini kami sangat selektif dan penuh kehati-hatian dalam menyalurkan bantuan permodalan karena sepeser uang yang berada di LPDB merupakan uang rakyat yang harus dipertanggungjawabkan. Jadi, jangan sampai penyaluran dana salah prosedur dan tidak tepat sasaran.”

Tahun 2010, LPDB siap menyalurkan bantuan permodalan melalui koperasi kepada 11.165 usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM). Nilainya mencapai Rp 1,185 miliar dengan bunga kredit 9,5 persen menurun.

Deputi Pembiayaan Kementerian Koperasi dan UKM Agus Muharam mengatakan, sumber pembiayaan UMKM sesungguhnya sangat banyak, baik berasal dari pemerintah maupun nonpemerintah.

”Saya tidak tahu persis, apakah anggota Hipmi lebih banyak berperan sebagai produsen ataukah malah sebagai pedagang? Masalahnya, bentuk dukungan pembiayaan tentu akan sangat berbeda,” ujar Agus.

Ketua Umum Hipmi Jaya Adisatryo Sulisto mengatakan, faktor pembiayaan masih menjadi masalah krusial bagi UMKM sebab sebagian besar UMKM masih dibayang-bayangi masalah miskin akses pembiayaan, akses pasar, kualitas manajemen dan teknologi, serta miskin kemampuan sumber daya manusia.

Hingga kini Koperasi Hipmi Jaya menyalurkan dana ke anggota Hipmi Jaya sebagai pelaku UMKM dengan total nilai kredit sekitar Rp 400 juta. Idealnya, satu pengusaha baru bisa membuka peluang minimal empat tenaga kerja baru.

Rabu, 14 April 2010

Dari Hobi Mampu Sokong Ekonomi Keluarga


Hobi kreatif seringkali membawa hasil yang menguntungkan bagi seseorang. Contohnya, Asniar, warga Kelurahan Kebon Kosong ini, mampu menyokong ekonomi keluarga dari hobinya membuat pernak-pernik.

Hal ini mungkin terdengar biasa saja. Apalagi yang dihasilkan awalnya hanya berupa tas, bros dan cincin saja. Namun, lima tahun terakhir ini, Asniar mulai mengembangkan usahanya dengan memasarkan hiasan bunga dari akrilik.

Jika dilihat dari jauh, hiasan bunga akrilik ini tidak berbeda jauh dengan hiasan bunga kristal yang harganya jauh lebih mahal.

"Sekitar lima tahunan lah, saya mulai membuat hiasan bunga seperti ini. Bahannya sih mudah didapat kemudian tinggal dirangkai saja dengan tali kenur. Saya sengaja tidak pakai lem karena biasanya cepat lepas." tutur ibu dari enam anak ini.

Kisaran harga bunga per tangkainya adalah Rp. 15.000,-. Namun, jika beli per pot atau per vas harganya berkisar antara Rp.60.000,- sampai Rp.250.000,-.

Distribusi hiasan bunga ini pun ternyata sudah merambah Palembang dan Lampung. "Kalau di Palembang dan Lampung, saya titip ke toko-toko. Untuk wilayah Jakarta, saya titipkan saja ke anak-anak atau teman-teman yang sudah saya percaya." ungkap Asniar.

Asniar juga menambahkan bahwa hiasan bunga karyanya ini menjadi produk unggulan Usaha Mikro Kecil Menengah (UMKM) untuk Kelurahan Kebon Kosong.

"Waktu itu, saya ikutkan karya saya ini eh banyak yang minat dan jadi produk unggulan." ucap Asniar.