Ebiz Ads

Sabtu, 27 Maret 2010

Joy Card, Mencicip Bisnis Permainan Kreatif Anak


Bagi anak-anak bermain adalah sesuatu hal yang sangat menyenangkan sehingga membuat lupa waktu. Sebaliknya belajar seringkali membuat anak mudah bosan.

Dengan alat semacam permainan kreatif sekaligus mendidik yang diciptakan oleh Creative Edutoys, Fikri Kurniawan (26) ingin mengajak anak-anak belajar sambil bermain. Dengan demikian, semua yang diajarkan melalui alat permainan bernama Joy Card, anak-anak dengan mudah menghapal dan mengingatnya.

"Secara prinsip permainan yang ciptakan oleh Creative Edutoys adalah mengajak anak belajar sambil bermain," kata Fikri

Alat itu dinamakan Joy Card yang terbuat dari bahan kertas Ivory dengan gambar atau seri bermacam-macam, hewan, alat transportasi atau seri lainnya. Dengan alat itu anak bisa belajar bahasa Indonesia, Bahasa Inggris dan cara pengucapannya.

"Alat ini bisa disesuaikan umurnya untuk anak SD kelas 1 sampai kelas 6. Tinggal diputar akan keluar nama dalam bahasa Indonesia, Inggris dan cara mengucapkannya," kata Fikri sambil memperagakan cara memainkannya.

Sedang alat kedua yang diciptakan adalah ular tangga. Secara prinsip permainan mirip seperti permainan ular tangga yang biasa dimainkan. Ada dadu, bidak permainan yang dimainkan oleh tiga orang dan kartu pertanyaan.

Saat dimainkan anak-anak harus menjawab pertanyaan-pertanyaan yang ada di kartu merah atau biru yang disediakan. Anak harus bisa menjawab, bila tidak bisa menjawab tidak boleh jalan.

"Seri mainan matematika untuk melatih hitungan, perkalian, pengurangan atau pembagian. Bisa seri lainnya kita sesuaikan saja. Guru atau mungkin orangtua hanya sebagai pendamping atau pengawas saja," katanya.

Menurut alumni Teknik Informatika Universitas Islam Indonesia (UII) Yogyakarta itu saat diujicobakan kepada anak-anak terutama anak SD tidak ada hambatan. Mereka tampak senang dan bisa menyerap pelajaran melalui permainan itu lebih mudah.

"Alat ini juga bisa dimainkan di dalam kelas atau di luar kelas," katanya.

Fikri menambahkan sebelum mengembangkan usahanya itu, dia sempat mengajak bermitra dengan orang lain namun kemudian tidak dilanjutkan. Setelah itu tepatnya pada pertengahan tahun 2009, dia bersama adik dan teman lainnya mengembangkan sendiri usaha itu.

Untuk pemasarannya dilakukan melalui agen dan secara online. Agen-agen pemasaran sudah tersebar di berbagai kota di Indonesia. Dua alat permainan itu sudah dicetak hingga ribuan jumlahnya dengan harga relatif terjangkau di bawah Rp 10 ribu rupiah/buah untuk eceran.

Sementara untuk harga agen hampir setengahnya. Misalnya saja untuk Joy Card-transportation series, harga eceran terendahnya adalah Rp 10.000, namun harga agennya hanya Rp 5.000 dengan pesanan minimal 300 unit.

"Di semua alat yang kita produksi terdapat tulisan 'produk kreatif asli Indonesia'. Ini yang jadi ciri khas buatan kami," pungkas Fikri.

Anda berminat? Silakah hubungi:
Website: http://www.joycard.tk/

Rabu, 24 Maret 2010

Ebiz News

Bisnis Distro, Sebulan 24.000 Desain Baru


Proses untuk mendapatkan hak cipta atas desain busana di Jawa Barat, terutama untuk busana anak muda, masih sulit ditempuh. Langkah itu membutuhkan waktu yang cukup lama, hingga dua tahun.

Kepala Dinas Perdagangan dan Perindustrian Jabar Ferry Sofwan di Bandung, Selasa (23/3/2010), mengatakan bahwa proses itu lama karena Kementerian Hukum dan Hak Asasi Manusia membutuhkan waktu untuk mengecek keorisinalan desain yang diajukan.

Sementara itu, pelaku distribution outlet (distro), factory outlet, dan clothing harus mengganti rancangan desain busana untuk anak muda secara cepat dan rutin, biasanya sebulan sekali. Jumlah desain busana yang dikeluarkan setiap bulan pun sangat banyak.

"Di Bandung, jumlah distro dan clothing saja sekitar 1.200 unit. Setiap bulan, jumlah desain yang dikeluarkan usaha pakaian itu ditaksir mencapai 24.000 buah," katanya.

Ferry mengatakan, Kementerian Perindustrian juga sedang menyusun daftar motif batik di Indonesia. Langkah itu dilakukan agar motif batik lokal tak ditiru negara lain. Saat ini, produk batik dari China sudah beredar di pasar lokal.

Menyeruput Rupiah dari Teh Bercita Rasa Buah


Menyeruput teh sudah menjadi kebiasaan masyarakat Indonesia. Orang kerap meminum teh di sore hari atau untuk melawan hawa dingin. Banyak pula orang yang suka mengonsumsi teh dalam kondisi dingin untuk mengusir haus kala panas menyengat di siang bolong.

Belakangan, penyajian teh dalam keadaan dingin ini makin banyak peminat. Mungkin, iklim tropis di Indonesia yang panas membuat orang menyukai minuman dingin yang menyegarkan. Apalagi, meminum teh selain menyegarkan juga menyehatkan.

Sedemikian merakyatnya minuman teh membuat permintaan minuman ini terus ada. Itulah yang mendasari Hamdan Rintawibawa berbisnis teh, dan menawarkan kemitraan gerai teh bernama Berkatea.

Tepatnya sekitar lima bulan lalu, ia sudah melakukan tes pasar sambil menawarkan peluang kemitraan dengan membuka beberapa gerai di Jakarta. Ternyata, animo masyarakat cukup baik. Hingga kini sudah ada lima mitra yang serius bekerja sama dengannya. Mereka berada di Kalimantan, Surabaya, dan Bekasi.

Hamdan tidak hanya menawarkan minuman teh biasa. Dia menciptakan teh rasa aneka buah, seperti leci, lemon, dan stroberi. Dia mengaku meramu khusus bahan baku teh buatannya. Inilah yang membuat aroma dan rasa teh Berkatea memiliki ciri khas. "Kami sedang membuat teh rempah," kata Hamdan.

Jika Anda berminat menjadi mitra, Hamdan menyediakan tiga opsi paket investasi. Pertama, Paket Hemat dengan investasi awal Rp 4,75 juta. Kedua, Paket Ekstra dengan investasi awal Rp 6,5 juta dan, ketiga, paket Berkatea Coffee sebesar Rp 7,5 juta.

Perbedaan tiap paket terkait pemberian fasilitas peralatan usaha kepada mitra. Pembeli Paket Ekstra mendapat tambahan mesin sealer atau mesin pengemas plastik. Sedang paket Berkatea Coffee menawarkan menu kopi selain teh rasa buah.

Adapun fasilitas standar yang didapat semua mitra adalah booth, bahan baku awal untuk 350 gelas, gelas plastik, tempat minum jumbo, saringan teh, hingga pelatihan pegawai.

Dalam kemitraan ini, Hamdan tidak membebani mitra dengan biaya royalti. Namun, untuk menjaga standar rasa teh, mitra wajib membeli seluruh bahan baku dari pusat. Untuk pemesanan selanjutnya, Hamdan menetapkan minimal pesanan Rp 500.000. Untuk pemesanan luar kota, minimal pesanan Rp 1,5 juta.

Hamdan menyarankan mitra mencari lokasi gerai di pusat keramaian, seperti sekolah, terminal, stasiun, area rekreasi, perkantoran, pasar, atau di depan minimarket. Harga jual Berkatea antara Rp 2.500-Rp 3.500 per gelas. Jika mampu menjual sesuai target minimal 50 gelas per hari, mitra akan meraih omzet Rp 3,75 juta-Rp 5,25 juta per bulan. "Modal bisa balik sekitar bulan ketujuh," janjinya.

Ketua Dewan Pengarah Perhimpunan Waralaba dan Lisensi Indonesia Amir Karamoy mengatakan, bisnis teh rasa buah memang sedang menjadi tren di masyarakat. Amir melihat teh sudah menjadi minuman rakyat. Selain itu, bisnis seperti ini biasanya menawarkan investasi awal yang relatif kecil. "Sehingga cocok bagi mereka yang ingin berusaha dengan modal kecil," kata Amir.

Seperti juga Hamdan, Amir mengingatkan aspek terpenting dari usaha ini adalah penentuan lokasi. Mitra harus menyesuaikan segmen pasar dengan tempat usahanya.

Tak kalah penting, Amir meminta calon mitra melakukan analisa keuangan sebelum memilih sebuah paket kemitraan. Calon mitra harus menghitung secara detail proyeksi pendapatan dari perkiraan besarnya pasar. Cara ini untuk menghitung kemungkinan balik modal usaha sejak awal.

Berkatea
Jl. WR Supratman No.70 Pondok Ranji, Ciputat, Tangerang, Banten
Telp. 081806000666 dan (021) 32773638

Senin, 22 Maret 2010

Inovasi Jadi Modal Ike Tantang China


Berawal dari hobi, berujung hoki. Mungkin itu kalimat paling pas ditujukan bagi Ike Hadiani Kasman (53), perajin sekaligus pemilik PD Kria, di Jalan Purbamanik, Guruminda Kota Bandung yang bergerak di bidang industri kerajinan.
 
Meski lulus dengan predikat sarjana muda dari Akademi Tekstil Berdikari Bandung di tahun 1980, kecintaan Ike terhadap dunia kerajinan tak bisa dibendung. "Sejak SMA, saya sering membuat aksesoris dari kancing baju. Usaha sulam pita pun pernah saya terjuni, hingga akhirnya saya memutuskan untuk menekuni kerajinan tas dan sepatu sandal kulit dengan variasi batu-batuan," tuturnya.
 
Ide awal membuat tas dan sepatu kulit berhiaskan batu-batuan tercetus medio 2004. Saat itu, Ike melihat belum ada desain yang memadukan aksesoris batu-batuan seperti mutiara, payet, mote, atau batuan alam lain dengan produk fesyen.
 
Dengan gigih, dia mencari bahan baku hingga ke seluruh Jawa Barat. Tidak mudah mencari bahan baku nomor satu. "Setelah berulang kali gagal, akhirnya saya temukan pemasok kulit dari Garut dan batu-batuan dari Sukabumi yang kualitasnya tidak diragukan," ujar Ike.
 
Bagi Ike, menjaga kepercayaan pelanggan adalah kunci utama pengembangan usaha. Untuk itulah dia berupaya mendesain hingga tas dan sepatunya nyaman dipakai.
 
Tentang pemasaran awal, Ike menempuh metode MLM atau marketing lewat mulut. Dia mengandalkan aktivitas luar rumahnya mulai dari kegiatan tenis hingga pengajian.
 
Akhirnya, setelah mengikuti pameran Kriya Pesona I di Bandung tahun 2006, produknya diburu pengunjung. Ratusan tas dan sepatu diborong pembeli. Bahkan, dia kewalahan memenuhi permintaan yang terus membanjiri stand-nya.
 
Pameran pun menjadi agenda rutin bagi Ike. Bahkan, dia mengakui bahwa nama PD Kria dibesarkan lewat pameran. Setelah keliling pameran di seantero nusantara, produk Ike akhirnya diapresiasi pemerintah dan dimasukkan menjadi salah satu produk unggulan nasional sehingga otomatis mendapat kesempatan berpameran ke luar negeri.
 
Lintas Benua
Lima benua telah dikunjungi Ike dalam rangkaian pameran. Di antaranya, Australia, Afrika Selatan, Belanda, Perancis, Jerman, Amerika Serikat, China dan India. Hebatnya, hampir di setiap pameran internasional, produk yang dibawanya selalu habis.
 
Kini, setelah puluhan tahun menjadi wirausaha, Ike mulai menikmati buahnya. Setiap bulan, produksi tas dan sepatu bisa mencapai 150 setel dengan omzet produksi setidaknya Rp 100 juta.
 
"Saya dibantu 19 pekerja perempuan yang khusus bertugas menghias produk dengan batu-batuan. Ada lagi pekerja yang membuat tas dan sepatu yang biasanya memanfaatkan warga sekitar," ujarnya.
 
Meski produk kerajinan rawan penjiplakan, Ike tidak segan berbagi ilmu ke sejumlah rekannya sesama perajin. "Itung-itung nambah amal ibadah," kata perempuan yang telah menunaikan ibadah haji dari hasil jerih payahnya itu.
 
Membanjirnya produk China di bidang kerajinan, sama sekali tidak membuatnya gentar. Dia yakin, produknya yang dipasarkan dengan kisaran harga Rp 200.000-Rp 850.000 itu masih unggul di kualitas dan inovasi. Sebab, kebanyakan produk China merupakan produk massal dengan kualitas tidak terlalu bagus.
 
Bagi Ike, selama industri kerajinan dalam negeri terus berinovasi dan mencari keunikan masing-masing, produk sejenis dari China tidak akan mampu menggoyang produk lokal menjadi tuan rumah di negeri sendiri.
 

Minggu, 21 Maret 2010

Ebiz Inspirations

Jack Ma, Mantan Guru yang Jadi CEO Alibaba.com



Ingin membeli kancing baju dari China? Atau mesin-mesin besar? Tinggal masuk ke alamat situs Alibaba.com. Dalam satu kali klik, terpampanglah ratusan, bahkan ribuan produsen China. Mulai dari peraut pensil hingga barang yang besar dan rumit pengejaannya. Minimal ordernya pun cukup besar, ada yang 500 unit atau bahkan 10.000 unit.

Sebagian pemasok di Alibaba.com adalah perusahaan usaha kecil dan menengah (UKM). Alibaba.com telah menjadi situs business to business terbesar yang menghubungkan produsen di China dengan dunia.

Sama seperti dalam hikayat Seribu Satu Malam, ketika Alibaba meniru para perampok mengucapkan mantera ”Sesam, buka pintu”, terbukalah pintu ke negara pengekspor nomor dua terbesar di dunia itu.

Pengguna Alibaba.com sudah mencapai 8 juta dan pendapatannya terus meningkat. Akhir tahun lalu, pendapatan Alibaba.com naik 39 persen menjadi 440 juta dollar AS. Belakangan Alibaba.com juga menyediakan Aliexpress untuk para konsumen yang diperbolehkan memesan satu barang saja.

”Kecil itu indah. UKM menyediakan mesin penggerak pertumbuhan ekonomi di Asia dan mereka adalah masa depan e-commerce,” ujar CEO dan pendiri Alibaba.com, Jack Ma, pada Pertemuan Tingkat Tinggi UKM APEC di Singapura. Ma mengungkapkan, mekanisme pembiayaan atau dukungan kepada UKM belum maksimal karena belum ada mekanisme standar yang dapat digunakan.

”Pada tahun 1999, kita memprediksi bahwa pemenang dalam bisnis internet adalah udang, bukan paus. Delapan tahun kemudian pengalaman membuktikan, perusahaan yang mendapatkan manfaat utama dari e-commerce adalah UKM yang menggunakan internet untuk memasarkan produk mereka atau untuk menemukan relasi bisnisnya di seluruh dunia,” lanjut Ma penuh semangat. Penampilan mantan guru ini tetap sederhana, dengan menggulung lengan panjang bajunya hingga ke siku.

Menurut dia, UKM layak mendapat perhatian karena semua bisnis besar berawal dari langkah kecil. ”Seperti bayi, semua orang tahu bahwa bayi ini akan tumbuh. Semua pelaku bisnis akan sukses karena mereka yakin akan keberhasilannya. Mereka berhasil karena terus menjaga mimpi besarnya. Orang bisa tahan satu minggu tanpa makanan, tiga hari tanpa minuman, tetapi orang akan mati jika kehilangan harapan dalam satu menit saja,” tutur Ma.

Ma sudah mengalami hal ini. Situs Alibaba.com tidak serta-merta besar seperti sekarang ini. Menurut dia, kesuksesan Alibaba.com tidak lain karena ”Kami tidak memiliki uang, teknologi, dan rencana ke depan,” ujarnya suatu ketika. Jack Ma menyatakan tidak pernah sekali pun menyangka akan sukses di bisnis online. Dia mantan guru Bahasa Inggris, bukan seorang teknisi komputer.

Minat Ma pada bahasa Inggris membawa dia keluar China dan memiliki pandangan lebih luas. Pada umur 12 tahun dia sudah tertarik belajar bahasa Inggris. Dalam delapan tahun masa kecilnya dihabiskan dengan bersepeda 40 menit menuju sebuah hotel di dekat Danau Hangzhou, sekitar 160 kilometer dari Shanghai. Ketika itu China baru mulai membuka diri dan mulai banyak turis yang datang ke China. Ma memberanikan diri menjadi pemandu gratis agar dapat cas-cis-cus mempraktikkan bahasa Inggris-nya. Pengalaman selama delapan tahun itu membuat pemikiran Ma lebih terbuka dan lebih mengglobal dibandingkan teman-teman sebayanya.

Ma membulatkan tekadnya belajar bahasa Inggris, tetapi perjalanan masuk menjadi mahasiswa tidaklah mudah. Dia harus mengikuti ujian masuk universitas sampai dua kali. Akhirnya, Ma diterima di Universitas Keguruan Hangzhou, semacam institut keguruan dan ilmu pendidikan pada masa lalu. Ma belajar menjadi guru sekolah menengah. Menurut dia, universitas tempatnya bekerja tidak begitu bagus kualitasnya.

Pinjam uang
Lulus dari universitas, Ma adalah satu-satunya dari 500 mahasiswa seangkatannya yang ditugaskan mengajar di universitas. Ketika itu gaji Ma sebulan sebesar 100-120 renminbi, setara dengan Rp 114.000-Rp 142.500 per bulan. Ma selalu memimpikan, setelah bertugas mengabdikan dirinya selama lima tahun, dia akan memulai bisnis hotel atau yang lain.

”Pada tahun 1992, perekonomian China sudah mulai bertumbuh, saya melamar banyak sekali posisi, tetapi tidak ada yang lolos. Akhirnya saya menjadi sekretaris general manager gerai penjual ayam goreng Kentucky Fried Chicken,” kata Ma. Dia juga menjadi penerjemah sebuah delegasi perdagangan.

Seorang teman kemudian memperlihatkan internet untuk pertama kalinya. Ketika Ma mencari kata beer di mesin pencari Yahoo, dia menemukan kenyataan bahwa tidak ada data tentang China. Mereka lalu membuat situs tentang China.

Ma semakin tertarik pada komputer dan meminjam uang 2.000 dollar AS dari kerabatnya untuk mendirikan perusahaan komputer. Padahal dia tidak mengerti tentang komputer ataupun surat elektronik. Dia bahkan tidak pernah menyentuh keyboard komputer sebelumnya. ”Rasanya seperti orang buta yang menunggangi macan buta,” katanya.

Perusahaan itu bersaing dengan perusahaan telekomunikasi raksasa China, China Telecom, selama satu tahun. Akhirnya, China Telecom menawarkan berinvestasi pada perusahaan Ma sebesar 185.000 dollar AS. ”Itu adalah uang terbanyak yang pernah saya lihat sepanjang hidup saya,” kenang Ma.

Sayangnya, Ma hanya kebagian satu kursi dewan direksi. Setiap hal yang diusulkan langsung ditolak mentah-mentah. Ma mengandaikan keadaan itu seperti gajah dan semut. Mimpi memiliki perusahaan sendiri tidak juga padam.

Perjalanan Alibaba.com bukannya tidak tanpa hambatan. Pada tahun 2002, dana tunai hanya tersisa untuk bertahan selama 18 bulan. ”Kami memiliki banyak anggota yang menggunakan situs kami, tetapi tidak tahu apakah kami bisa mendapatkan uang. Kami mempertemukan eksportir barang dari China dengan pembeli dari AS. Model ini menyelamatkan kami. Pada akhir 2002 kami berhasil membukukan keuntungan sebesar 1 dollar AS. Setiap tahun keuntungan kami bertambah-tambah,” katanya.

Menjadi perusahaan publik juga titik balik penting. Alibaba.com berhasil meraup dana penawaran saham perdana 1,7 miliar dollar AS di Bursa Saham Hongkong pada November 2007. Itu merupakan penawaran saham perdana (IPO) internet terbesar sejak IPO Google di Nasdaq.

Ma telah berhasil mewujudkan mimpi besarnya menjadi kenyataan walaupun tidak mulus dan selalu ada hambatan.

Miniatur Gerobak Syumeiraty Rashando Diminati Presiden


Saat mengalihkan usahanya dari penjualan aksesoris pakaian remaja menjadi kerajinan pada 2004, toko Syumeiraty Rashando (33) langsung sepi. Pengunjung lima orang sehari belum tentu datang. "Pelanggan lama berpikir, kenapa jadi menjual kerajinan," katanya.

Pemilik usaha Crayons Craft & Co di Jalan Aceh Nomor 15, Bandung itu memulai usahanya pada 1995. Namun, kompetisi bisnis kian lama semakin ketat dengan bertambahnya pesaing. Saat prospek bisnis aksesoris tak lagi dianggap cerah, ia pun beralih menjual kerajinan.

Syumeiraty berpikir, ia harus bisa membuat konsumen mengapresiasi usahanya lebih dulu. Akhirnya, kursus gratis ditempuh sebagai solusi. Para peserta kursus hanya perlu membayar starter kit (perlengkapan) sebesar Rp 100.000. Mereka pun bisa mengikuti kursus gratis selama dua jam.

Benar saja, informasi dari mulut ke mulut memang efektif. Konsumen kian banyak. "Untungnya, waktu toko masih sepi saya melatih pegawai membuat kerajinan," katanya.

Saat toko sudah cukup ramai, pasokan kerajinan pun tidak terhambat.

Produk yang dihasilkan misalnya gantungan kunci, hiasan telepon seluler (ponsel), miniatur gerobak atau pikulan, dan replika makanan. Miniatur itu sangat detil sementara kemiripan replika makanan nyaris tak berbeda dengan aslinya.

Kini, sekitar 10 miniatur gerobak atau pikulan dan 15 replika makanan bisa terjual per minggu. Adapun penjualan hiasan ponsel mencapai 25 buah per hari. Contoh miniatur yang dibuat yakni gerobak atau pikulan sayur , rujak, dan sate dengan h arga mulai Rp 250.000.

Adapun harga replika makanan mulai Rp 350.000, misalnya udang saus mentega, spageti, dan sushi. Hiasan ponsel dijual dengan harga mulai Rp 15.000 per buah. Berbagai produk itu diminati remaja, pengusaha makanan, bahkan kepala negara.

Dalam pameran Inacraft di Jakarta tahun 2006 misalnya, gerai Syumeiraty dikunjungi Presiden Susilo Bambang Yudhoyono. Cukup lama Presiden singgah, hingga 15 menit. Padahal, lama kunjungan ke gerai lain kurang dari lima menit.

"Yudhoyono, menurut Syumeiraty, sangat ramah. Presiden bersedia diajak berfoto, bahkan memberikan masukan agar hasilnya lebih bagus. Sebelumnya, latar belakang foto adalah stan lain. Setelah diberi masukan, menjadi stan saya. Rasanya saya sampai linglung," guraunya.

Presiden lalu membeli miniatur kios rokok seharga Rp 600.000. Selain itu, Syumeiraty memberikan miniatur gerobak sate secara cuma-cuma. Kerajinan itu Syumeiraty juga diminati Mufidah Jusuf Kalla yang membelinya pada 2005.

"Istri mantan wakil presiden Jusuf Kalla yang ketika itu menjadi Dewan Kerajinan Nasional membeli miniatur gerobak bakso malang seharga Rp 550.000," imbuhnya.

Sabtu, 20 Maret 2010

Terangnya Bisnis Lampions Daur Ulang Botol Bekas


Produk-produk daur ulang masih menjadi bisnis yang menggiurkan. Selain tidak perlu bermodal besar, bisnis ini hanya memerlukan kreativitas yang tinggi.

Bob Novandy termasuk yang jeli melihat peluang ini. Pengrajin lampions daur ulang botol minuman bekas di Kebon Jeruk, Jakarta Barat ini sudah menjalankan bisnis daur ulangnya sejak tahun 2003 lalu.

Mantan sespri salah satu anggota DPR ini terinspirasi mengembangkan produk daur ulang ketika banyak botol-botol plastik dibuang begitu saja di banyak tempat tanpa dimanfaatkan. Dengan kemampuannya kini ia telah memproduksi kurang lebih 150 jenis bentuk botol daur ulang dengan harga per buahnya mulai dari Rp 50.000 sampai Rp 500.000.

Beberapa produk seperti lampions dengan berbagai macam ukuran, tirai-tirai rumah, miniatur kendaraan ia produksi sendiri dari tangannya yang sangat terampil. Ia mengaku, saat ini semua produksi lampions daur ulangnya diproduksi jika ada pesanan saja. Produksi lampionsnya setidaknya sudah menembus pasar Hongkong.

"Pasar yang saya incar seperti cafe, perumahan, lokasi kost dan lain-lain," kata Bob

Saat ini semua pesanan yang ia perolehnya umumnya masih dari mulut ke mulut, semua penjualan produknya tidak melalui gerai khusus. Bagi pemesan yang berminat umumnya langsung mendatangi rumahnya di Kebon Jeruk.

Bob mengatakan dalam sebulan ia mampu memproduksi lampions hingga 300 unit dengan omset Rp 20 juta, ini terjadi jika Bob sedang mendapat orderan penuh dari para pemesan.

"Bisnis ini untungnya gede, tapi ngggak rutin ordernya misalnya Coca Cola salah satu pelanggan saya, yang membeli untuk dikirim ke Hong Kong," katanya.

Lulusan IISIP Jakarta tahun 1980 ini, mengakui untuk menghasilan produk-produk bernilai tinggi, ia hanya memerlukan bahan baku dari lapak-lapak pemulung. Harga bahan baku botol plastik bekas rata-rata Rp 4000 per kg atau sekitar 10 botol, yang bisa diolah menjadi satu produk lampions.

Bob yang mengklaim namanya dari kependekan dari kata Bantu Orang Banyak (BOB) ini, tidak memerlukan modal besar untuk menjalankan bisnis ini. Hanya dengan bahan-bahan seperti pisau cutter, gunting dan cat, ia sudah bisa menjalankan bisnis ini.

"Sayangnya apresiasi masyarakat terhadap barang daur ulang masih menganggap remeh, mereka masih melihat bahan, bukan pada proses," katanya.

Kemampuan mengolah sampah ini ia juga turunkan kepada anak-anak sekolah dasar, Bob sempat mengajar di beberapa sekolah dasar di wilalayah Jakarta Barat. Pria yang suka mengutak-atik kata ini punya pandangan sendiri terkait makna kata Lampions yaitu berasal dari kepanjangan kata Langkah Alternatif Mengatasi Pengangguran Ikhlas Optimis Niat Sejahtera (LAMPIONS).

Kamis, 18 Maret 2010

Laba Nikmat Dari Mr. Huh Haah


Pertengahan tahun 2002, Yoyok Heri Wahyono mendirikan Waroeng Spesial Sambal “SS” yang berada di Bulaksumur Yogyakarta dengan konsep layanan yang berbeda dengan warung atau rumah makan yang sudah ada sebelumnya. Keunikan dari konsep yang dikembangkan pemilik ternyata mendapatkan tanggapan yang baik dari pelanggan, meliputi kelebihan Warung Spesial Sambal pada kualitas rasa sambal, ragam menu sambal yang ditawarkan, pemrosesan pesanan berdasar made to order, dan tata-cara penyajian pesanan.

Setelah 7 tahun beroperasi, Warung Spesial Sambal telah berkembang dengan membuka gerai-gerai baru sebanyak 11 buah yang tersebar di Yogyakarta, 4 di Solo, Klaten, Bandung, 2 di Tangerang, Jakarta Timur, Depok, 4 di Semarang, Karanganyar , Cirebon, Magelang, Malang, Kediri dan Purwokerto (data sampai Mei 2009) untuk menjawab permintaan pelanggan dan memberikan layanan yang optimal bagi pelanggan yang lokasi tempat tinggalnya relatif jauh dari warung. Dalam menjaga keunggulan yang ada, pemilik tetap mempertahankan identitas dan keunikan Waroeng Spesial Sambal “SS” dengan menciptakan standarisasi terhadap kualitas rasa sambal, ragam sambal yang disediakan, prosedur pelayanan, hingga yang bersifat fisik warung, meliputi interior warung, road sign, serta merek Warung Spesial Sambal “SS”.

Pihak manajemen mencoba menciptakan komunitas pelanggan dengan membuat Buletin Warung Spesial Sambal yang berisi informasi seputar pelanggan, Kota Yogyakarta, serta hal-hal baru tentang Warung Spesial Sambal, seperti jenis menu baru ataupun gerai warung baru yang dibuka.
Perkembangan dan keberhasilan Warung Spesial Sambal hingga saat ini, ternyata telah mendapatkan respon yang baik dari pihak-pihak yang menyukai atau menjadi pelanggan, terbukti keberadaan Warung Spesial Sambal telah dimuat dalam beberapa medii massa antara lain Tabloid Saji, Nyata, Majalah Pengusaha, Liputan kuliner Trans TV, Trans7, TPI, Indosiar, TA TV, Kompas Jateng-DIY, Kedaulatan Rakyat, Buletin Hallo Telkomsel, dll  sebagai salah satu tempat makan yang direkomendasikan bila anda ingin menikmati sajian pedas yang dikemas dalam aneka macam sambal.
Berdirinya Waroeng SS yang tidak lain berangkat dari hoby & kegemaran Mr. Huuh-haah akan sambel. Dan ceritanya setelah mulai merasakan begitu kerasnya kehidupan & tuntutan kebutuhan hidup akhirnya Mr. Huuh-haah bersama tementemennya mendirikan sebuah EO yang diberi nama InSEd production.

Namun kenyataannya yang namanya proyek tidak bisa diharapkan secara rutin.......lha terus pertanyaan berikutnya yang harus di jawab adalah : kalo pas ga ada job makannya gimana ??, terus dari situlah muncul kemauan yang keras untuk tetap hidup. Dan berdirilah SS-01 berujud kakilima di Jl. Kaliurang sebelah barat Grha Sabha Pramana UGM pada bulan Agustus 2002.

Begitulah dan begitulah......buka Waroeng mulai setiap jam 5 sore sampai jam 10 malam bersama 5 orang teman-teman, juga melibatkan personil-personil InSEd yang perannya tidak bisa dilepaskan dari sejarah Waroeng SS. Enam bulan kemudian dengan berbagai usaha yang keras menurut ukuran Mr. Huuhhaah akhirnya Waroeng SS mulai bisa diterima oleh masyarakat khususnya penggemar sambal di Jogja, dan selanjutnya dengan modal tekad baja, pantang surut, berani karena benar & hasrat untuk memenuhi kebutuhan hidup maka dibukalah Waroeng SS-02 di Condong Catur...

Khusus untuk Waroeng SS dalam hal yang namanya untung/laba ternyata tidaklah seindah apa kata orang, maksudnya banyak orang bilang bisnis makanan tuh untungnya bisa sampai 40an% dari omzet, tapi Mr. Huuhhaah sendiri ga’ tahu kenapa hal itu sama sekali tidak berlaku di SS. Padahal semua daya upaya & segenap kemampuan intelektual yang dimiliki sudah dicurahkan tapi tetap aja......he3x...! Akhirnya Mr. Huuh-haah males mikirin lagi tentang “angka-angka” & akhirnya mencoba untuk terus meyakini kalo “angka-angka rejeki” itu memang urusan DIA yang Maha Kuasa & Maha Adil, sedangkan kita hanyalah bertugas mengerjakan apa yang didepan kita dengan sebaik-baiknya yang kita bisa.

Terus sebagai pengejawatahan dari keyakinan itu maka Mr. Huuh-haah mencoba untuk secepatnya mengembangkan usaha ini yakni buka cabang lagi. Kemudian dari beberapa temen dari si Huuh-Haah ini ada yang tertarik untuk patungan bikin cabang baru maka dari situ berdirilah Waroeng SS ke-3 di Seturan arah ke Babarsari. Berikutnya menyusul yang ke-4 di Pandega Marta, terus yang ke-5 di Jalan Kaliurang km. 14. Selanjutnya selama kurang lebih 1,5 tahun keinginan untuk mendirikan Waroeng SS ke-6 kok susah kesampaian, rasanya ada saja masalah yang bikin Waroeng SS 6 itu gak jadi.

Bahkan pernah dah bayar kontrak tempat tapi akhirnya ga jadi juga !!. Sempet frustasi juga Mr. Huuh-haah waktu itu hingga akhirnya ada seorang teman bilang “ya udah ga Waroeng 6 nya dilompatin aja, jadi langsung bikin yang ke-7”, eehh ternyata kok bener, yang ke-7 di Timoho dalam 2 bulan kemudian berdiri, menyusul yang ke-8 di Glagahsari jalan juga......! Ya begitulah kira-kira sedikit cerita tentang Mula Bukaning Waroeng SS.

Yang jelas keberadaan Waroeng SS ini bener-bener tidak lepas dari yang namanya dukungan orang lain yakni temen-temen Mr. Huuh-haah & team di SS itu sendiri, terus yang lebih puenting lagi adalah dukungan dari anda para pelanggan yang merupakan Big Boss kami. Dukungan bisa macam-macam, mulai dari berkenanya anda berkunjung ke SS sampai dengan kesediaan anda untuk menyampaikan kritikan & masukan untuk hal-hal yang membuat anda tidak nyaman di SS........! jadi sampaikanlah segala bentuk kekecewaan anda sekecil apapun lewat hotline yang sudah tercantum agar Waroeng SS senantiasa belajar memahami anda & berbenah untuk lebih bisa melayani anda dengan baik...!

Jl. Kaliurang KM 4.5, Gg. Kinanthi 52 Yogyakarta
Telp : 0274 – 6880505
Fax : 0274 – 542050

Ikan Sidat Indonesia Diincar Jepang


Benar jika dikatakan bahwa kekayaan kelautan dan perikanan Indonesia termasuk yang terbesar di dunia. Buktinya terlihat dari salah satu spesies ikan kegemaran warga Jepang, yaitu ikan sidat atau unagi, yang banyak hidup di perairan Indonesia.

Benih ikan sidat yang bisa hidup di air tawar dan asin itu ternyata menjadi incaran pengusaha perikanan Jepang karena harganya yang terbilang wah dan bisa mengucurkan yen ke kantong. Ambil contoh, ikan sidat jenis marmorata. Untuk membeli satu kilogramnya saja, Anda harus menyediakan uang setidaknya Rp 300.000.

Namun, ada juga 5 jenis ikan sidat lainnya yang salah satunya dijual seharga Rp 150.000 per kg, yakni jenis bicolor. Benihnya banyak ditemukan di perairan Palabuhan Ratu, Jawa Barat. Sampai saat ini, manusia belum bisa melakukan pemijahan terhadap benih ikan sidat tersebut. Pasalnya, ikan ini mensyaratkan pemijahan dilakukan di perairan laut dalam setelah benur lahir dan menjadi benih. Biasanya anakan sidat akan berenang ke muara sungai.

Di muara sungai itulah ikan itu besar sampai kemudian datang masa pemijahan lagi. "Jepang yang memiliki teknologi tinggi pun sampai sekarang belum bisa melakukan pemijahan tersebut," papar Made Suita, Kepala Balai Pelayanan Usaha (BLU) Tambak Pandu, Karawang, Minggu (14/3/2010).

Alhasil, untuk pembudidayaan ikan sidat tersebut, benih harus didatangkan dari alam. Beberapa daerah yang sudah memiliki sebaran tersebut adalah perairan Poso, Manado, selatan Jawa terutama perairan Palabuhan Ratu, dan perairan di barat Sumatera.

Namun, tidak semua daerah itu benihnya bisa dimanfaatkan karena banyak nelayan yang belum mengerti cara untuk menangkapnya. Made menyebutkan, nelayan yang sudah memiliki kemampuan untuk menangkap benih sidat itu baru nelayan yang ada di Palabuhan Ratu. Wilayah ini memiliki palung dan muara sungai yang mengalir ke laut.

Nurdin selaku Kepala Bagian Budidaya di BLU Pandu Karawang bilang, kini sudah ada yang mengomersialkan keberadaan benih itu, terutama nelayan yang ada di Palabuhan Ratu. Mereka sudah mengetahui potensi pasar benih ikan sidat, yang satu kilogramnya atau sekitar 5.000 benih dijual seharga Rp 150.000 per kg. Pembelinya pun kebanyakan datang dari Taiwan, Korea, China, Vietnam, dan tentunya Jepang.

Namun sebagian masyarakat Indonesia belum mengerti keberadaan bibit ikan sidat tersebut. Di Poso dan Manadi, misalnya, benih ikan sidat tersebut bahkan dijadikan ikan yang digoreng dengan rempeyek. Menurut Nurdin, ketika warga tidak mengetahuinya, ikan sidat itu menjadi ikan biasa seperti teri.

Pembeli benih ikan sidat dari berbagai negara kini sudah banyak mengincarnya. Sementara itu, pembeli benih domestik hanya memanfaatkannya untuk kebutuhan budidaya yang ada di Karawang, Cirebon, dan Indramayu. Yang menyulitkan bagi pembudidaya di dalam negeri adalah mereka tidak memiliki akses langsung ke pasar ekspor. Adapun di pasar dalam negeri, mereka tidak bisa berharap banyak karena konsumen domestik tidak menyukai ikan sidat dan juga karena harganya yang mahal.

"Untuk membudidayakannya juga ada persyaratan jika ingin ekspor ke Jepang sehingga pembudidaya ikan sidat sulit untuk ekspor ke sana," kata Nurdin.

Salah satu cara untuk bisa menembus pasar Jepang adalah dengan menjalin kerja sama terhadap perusahaan Jepang yang sebelumnya sudah berbisnis ikan sidat.

Nurdin bilang, ikan sidat cukup mahal karena proses perawatannya yang membutuhkan waktu lebih panjang, yakni 3-4 bulan. Adapun pakan utamanya adalah pelet dengan protein tinggi yang dijual seharga Rp 9.000 per kg. Selain itu, ikan juga butuh pakan tambahan berupa keong mas yang sudah dipotong-potong.

Dalam perawatannya pun, suplai oksigen harus dijaga karena ikan sidat membutuhkan air dengan tingkat larutan oksigen tinggi. Adapun tingkat kehidupan rata-rata ikan sidat tersebut mencapai 75 persen dari bibit yang ditebar. "Jika ingin detailnya, maka silakan datang ke BLU Tambak Pandu Karawang. Kami akan berikan informasi detailnya," undang Nurdin.

Saat ini di BLU Pandu Karawang terdapat mitra kerja sama dari Jepang, yakni Asama Industry Co Ltd. Mitra ini bekerja sama dengan PT Suri Tani Pemuka yang melakukan kerja sama untuk memproduksi ikan sidat di BLU Pandu Karawang. Ikan sidat yang sudah diproduksi tersebut bisa diekspor langsung ke Jepang karena sudah ada yang menampung. Sayang, Made tidak mau menyebutkan angka ekspor dari perusahaan mitranya tersebut.

Saat ini yang dibutuhkan oleh pembudidaya ikan sidat adalah membuka kerja sama dengan pemasok ikan sidat yang ada di pasar dunia. Menurut Made, pasar yang sangat menarik dan belum banyak disentuh adalah pasar ikan sidat untuk kebutuhan non-Jepang. "Yang mengonsumsi itu tidak hanya Jepang. Taiwan, Korea, dan China juga sangat menyukai ikan ini," ungkap Made.

Butuh proteksi ekspor benih

Masalah yang dihadapi oleh pembudidaya ikan sidat ini adalah masalah daya saing yang ketat dengan negara produsen lainnya. Negara yang sudah mengembangkan budidaya ikan sidat ini adalah Vietnam dan Korea, demikian juga dengan Jepang sendiri. Anehnya, kata Made, budidaya di dua negara tersebut mendapatkan benih ikan sidat dari Indonesia.

Padahal, kata Made, Kementerian Kelautan dan Perikanan sudah memproteksi ekspor benih ikan sidat dengan alasan guna melindungi spesies dan untuk meningkatkan nilai tambah di dalam negeri. "Namun, pembudidaya ikan sidat di Jepang itu sendiri ternyata adalah orang Indonesia," ungkap Made.

Termasuk yang ada di Korea dan juga Vietnam, benih ikan sidat itu diindikasi berasal dari Indonesia. Made mengindikasi bahwa banyak benih ikan sidat dari Indonesia berseliweran keluar negeri dan dibudidayakan di luar negeri. "Kontainer saja yang besar bisa diselundupkan, apalagi benih yang kecil ini," ujar Made.

Jika penyelundupan benih itu bisa diatasi, maka produksi ikan sidat dari budidaya di dalam negeri bisa sangat diandalkan sebagai nilai tambah bagi pembudidaya di dalam negeri, termasuk menambah devisa negara

Selasa, 16 Maret 2010

Melipat Rupiah dari Modifikasi Sepeda


Tak mau kalah dengan kendaraan bermesin macam mobil dan sepeda motor, sepeda kayuh pun tak luput dari tren modifikasi. Sepeda hasil modifikasi alias sepeda custom jenis low rider adalah sepeda yang sangat digemari. Maka dari itu, kini bermunculan bengkel kreasi sepeda bersadel rendah tersebut.

Meskipun ada pabrikan besar yang memproduksi aneka bentuk sepeda, bisnis modifikasi tak pernah mati. Maklum, karena diproduksi massal, sepeda pabrikan kerap tidak memenuhi selera penggunanya. Kondisi ini, tak ayal, membuat bisnis modifikasi sepeda memiliki prospek cerah. Salah satunya adalah modifikasi sepeda low rider.

Sejatinya, low rider adalah sepeda yang perawakannya pendek atau ceper. Salah seorang modifikator low rider, Tubagus Krisna Murthi, mengatakan, sepeda low rider sebenarnya meniru bentuk mobil-mobil mewah yang beredar di Amerika Serikat (AS) pada tahun 1950-an, yang ketika itu tengah ngetren.

Krisna berkisah, pada dekade tersebut, anak muda heboh mengendarai mobil yang diceperkan. Sayangnya, tidak semua anak muda bisa bergaya dengan mobil itu karena harganya yang mahal. "Dari situ muncullah kreasi modifikasi sepeda ceper yang disebut low rider bikinan George Barris di AS," beber Krisna yang juga pemilik Bakul Pit Low Rider.

Tak disangka, kreasi Barris kelak menjadi mahakarya dan bertahan hingga sekarang. Bahkan, karya itu berbalik arah menjadi sepeda untuk bergaya. Beberapa pabrikan sepeda besar malah tercatat pernah memproduksi massal model sepeda ini, seperti Schwinn asal Amerika. Krisna baru membuka Bakul Pit sejak pertengahan 2007. Namun, dia sudah sangat menggilai modifikasi sepeda sejak masih duduk di bangku sekolah menengah. Cara belajarnya otodidak.

Menurut Krisna, ciri-ciri sepeda low rider antara lain memiliki diameter ban ideal 20 inci, setang kemudi tinggi, frame rainbow (berangka pelangi) dan springer (garpu depan) melengkung. Untuk tempat duduk, sadel low rider biasa disebut jok banana (pisang). Sebab, bentuknya memang panjang seperti pisang dengan besi menjulang di bagian belakang yang terkadang digunakan untuk menyandarkan badan.

Meski ada beberapa ciri utama dari low rider, kata Krisna, selera personal tetap menjadi parameter modifikasi sepeda low rider. "Saya selalu membuat sepeda sesuai keinginan pemesan," katanya.

Dia berkata, saat memesan, biasanya klien datang membawa gambar atau foto. Setelah gambarnya cocok, Krisna selanjutnya membuat estimasi dana yang harus dibayar klien. "Saya kasih saran sesuai budget-nya. Kalau setuju, saya segera kerjakan," kata pria 23 tahun ini.

Untuk penggarapan, paling cepat Krisna bisa mengerjakan low rider dalam waktu enam jam. Dengan catatan, klien tidak memesan model yang neko-neko dan suku cadang berasal dari bengkelnya di Bekasi Selatan.

Menurut Krisna, jika permintaan klien banyak, misalnya membikin velg dan setang serta mengecat body, maka waktu penggarapannya bisa sampai dua minggu. Cepat atau lamanya waktu penggarapan ini juga bergantung pada ketersediaan suku cadang atau suku cadang.

Untuk suku cadang, ada dua jenis, yakni klasik dan baru. Untuk mendapatkan suku cadang klasik, Krisna biasanya minta bantuan teman-temannya dari luar kota untuk mencarinya. seperti di Yogyakarta, Semarang, Solo, dan Medan. Untuk suku cadang baru, Krisna mendapatkannya dari seorang agen yang merupakan pengimpor suku cadang asal Taiwan.

Tarif modifikasi low rider yang ditawarkan bengkel Krisna minimal Rp 1,5 juta-Rp 2 juta. Ini untuk pembuatan low rider lengkap dari nol. Krisna mengaku tidak pernah melayani modifikasi dengan cara mengubah sepeda yang sudah ada menjadi low rider.

Selain low rider, Krisna juga memodifikasi model sepeda lain, seperti limo, cruiser, chopper, basman, dan fire bike. Ini adalah model-model sepeda untuk life style, seperti halnya low rider.

Seperti namanya, limo adalah sepeda genjot yang terinspirasi dari sedan limosin. Panjang sepeda ini bisa mencapai 2 meter. Sementara itu, chopper adalah sepeda yang terinspirasi dari motor gede (moge) Harley Davidson. Lalu, cruiser adalah sepeda yang bentuknya mirip sepeda pantai.

Dari sekian jenis ini, Krisna bilang yang paling enak dikendarai hanya chopper. "Sepeda-sepeda ini memang hanya untuk life style bukan dikejar dari sisi fungsionalnya," katanya.

Dari bisnis modifikasi sepeda low rider saja berikut penjualan suku cadangnya, bengkel Krisna bisa meraup omzet Rp 7 juta per bulan.

Modifikator sepeda low rider lainnya adalah Hendra Prasetya. Bersama ketiga rekannya asal Bandung, Jawa Barat, Hendra juga memilih hanya menerima pembuatan sepeda utuh dan tidak menerima perombakan sepeda. "Karena sepeda yang sudah jadi memiliki tema berbeda sehingga banyak yang harus dirombak. Tipe bahan besinya juga beda," kata pria yang akrab disapa Pras ini.

Pras menggagas pendirian bengkel sepeda custom sejak 2009. "Semuanya berawal dari hobi dan mendesain sepeda milik sendiri. Karena ada yang tertarik dan minta dibuatkan, ya, akhirnya saya membuka bengkel," ujarnya.

Meski belum memberi nama bengkelnya, hasil kerja Pras dan teman-temannya cukup dikenal. Selain pemasaran dari mulut ke mulut, dia juga mempromosikan hal itu lewat internet. Pemesan yang datang ke bengkelnya kebanyakan dari kalangan muda, seperti komunitas sepeda atau skate board.

Dalam rnemodifikasi low rider, kata Pras, proses tersulit adalah mendesain dan mencari bahan baku. Untuk soal terakhir, bahkan Pras harus pandai memilih bahan baku yang harganya sesuai dengan isi kantong pelanggannya. "Tidak semua pemesan memasang budget khusus. Ada juga yang mengikuti desain dan harga yang ditawarkan," katanya.

Setelah pemilihan bahan baku, Pras memesan pembuatan rangka sepeda dan aksesori tertentu ke bengkel las. Dia memakai tenaga bengkel las karena biayanya lebih murah daripada membuat sendiri. "Tapi harus detail menginstruksikan ke tukang las supaya desain dan ukurannya sesuai, dan mudah dirakit," ujar pria lulusan Teknik Informatika Universitas Maranatha Bandung ini.

Sampai saat ini, Pras sudah mengerjakan lima sepeda low rider dan dua sepeda chooper. Tarifnya antara Rp 1,5 juta dan Rp 3 juta per unit. Menurutnya, keuntungan sepeda customized, selain mendapat sepeda yang modelnya eksklusif, harganya juga lebih murah dari sepeda yang sudah jadi.

Modifikator sepeda custom lainnya adalah Yudi Kartono, yang memiliki Bengkel Sepeda Ben Hur. Yudi menekuni bisnis modifikasi sejak 2004 di bilangan Radio Dalam, Jakarta Selatan. Ia bahkan dikenal sebagai salah satu pelopor modifikasi low rider di Jakarta.

Harga pembuatan sepeda paling murah adalah Rp 1,5 juta untuk low rider standar. Namun, menurut Yudi, harga rata-rata modifikasi sepeda yang ia kerjakan adalah antara Rp 3 juta dan Rp 4 juta. Untuk suku cadang, ia menetapkan harga, termasuk ongkos pemasangan.

Dalam sebulan, Yudi rata-rata menerima pesanan pembuatan dua sepeda. Namun, di sela-sela itu, ada juga permintaan untuk suku cadang. Rata-rata dalam sebulan permintaan suku cadang antara 5 dan 10 unit